Keesokan harinya, kepulangan Ibu Hj. Menik meninggalkan kekosongan udara yang melahirkan bencana baru. Sebelum menaiki taksi yang menjemputnya di ujung gang, sang mertua sempat melemparkan kalimat perpisahan yang tajam: "Suroso, Endang, kalau kalian masih nggak betah trus ngrasa suasana rumah ini masih aneh, mending cepet-cepet dibersihin! Rumah kotor itu ngundang penyakit!"
Namun, di telinga pasangan suami istri yang otaknya telah teracuni gas dan kelelahan mental, kalimat "suasana rumah ini aneh" dan "ngundang penyakit" mengalami translasi yang mengerikan. Bagi mereka, itu bukan nasehat kebersihan dari seorang mantan guru SD, melainkan konfirmasi resmi dan validasi mutlak dari seorang sesepuh: Rumah ini fix berhantu dan meminta korban!
Begitu taksi Hj. Menik melaju hilang di belokan jalan, Suroso langsung mengunci kembali pintu depan rapat-rapat. Selotip hitam tebal yang kemarin dilepas mertuanya kembali dipasang dengan ketelitian yang obsesif. Ventilasi dikunci, jendela dikancing mati. Udara pengap dan konsentrasi gas CO yang sempat terbilas sedikit oleh angin segar kini kembali menumpuk, mengepung ruang tengah dalam kepekatan yang melumpuhkan akal sehat.
"Pah... Mama udah ndak kuat lagi," bisik Endang sambil menyandarkan tubuhnya ke tembok, memegang dadanya dengan tangan gemetaran. "Ibuk saja sampai bilang suasana rumah ini aneh. Itu artinya hantunya udah level dewa, Pah! Kita nggak bisa cuma modal panci sama raket nyamuk Dodi!"
Suroso berdiri termenung sejenak di tengah ruangan. Rambut tipisnya berantakan, matanya yang memerah dan berkunang-kunang menatap ubin semen. Pertahanan ego dan prinsip skeptis sudah hancur lebur tanpa sisa.
"Ehem! Ehem!" Suroso berdeham, namun kali ini suaranya parau tanpa wibawa. "Mah... kalau dipikir-pikir, kondisi kita ini emang udah darurat banget. Papa... Papa setuju deh. Kita emang beneran butuh bantuan orang pintar dari luar."
"Maksud Papa... panggil dukun?" tanya Dodi dari atas sofa, matanya membelalak kaget. "Pa! Jangan aneh-aneh! Nanti kalau dukunnya ternyata penipu gimana?"
"Ini bukan penipu, Dod!" potong Endang cepat, jemarinya lincah menggeser layar HP-nya yang menampilkan percakapan grup WA Bunda-Bunda Ceria RT 05. "Ini rekomendasi langsung dari Jeng Tutik! Nama orang pinternya Ki Rebo. Katanya beliau ini pakar netralisir energi negatif tingkat tinggi! Banyak orang berhasil dibantu orang ini!"
Tiga jam kemudian, pintu depan rumah tua itu diketuk pelan. Tiga kali ketukan bernada berat yang bergema kaku di lorong tengah.
Suroso membukakan pintu. Di balik remang-remang bayangan teras, berdirilah sosok Ki Rebo.
Pria berusia lima puluh tahunan itu berpenampilan sangat meyakinkan—sekaligus absurd. Ia mengenakan jubah hitam kusam bermotif naga meliuk, celana komprang, serta ikat kepala kain batik yang miring ke kanan. Di lehernya melingkar tasbih kayu berukuran raksasa dengan biji-biji sebesar buah duku, sementara sepuluh jemari tangannya dipenuhi cincin batu akik berbagai warna yang berkilat-kilat dihantam sinar matahari. Bau minyak zaitun dicampur melati menyengat keras dari tubuhnya, bertabrakan sengit dengan bau karbol rumah tua itu.
Ki Rebo sebenarnya adalah mantan sales panci tekan dan alat rumah tangga yang gulung tikar tiga tahun lalu. Karena terdesak kebutuhan hidup dan bermodalkan lidah yang licin bagai belut disiram oli, ia berganti profesi menjadi dukun gadungan. Strateginya sederhana: cari warga panik, bumbui cerita mistis, lalu peras uang mereka dengan alasan "syarat penangkal".
"Selamat pagi... salam bagi segala jiwa yang kasatmata maupun yang samar..." kata Ki Rebo dengan suara berat yang sengaja dibikin-bikin bas dan bergema, matanya dipejamkan setengah. "Apakah ini kediaman Bapak Suroso?"
"I-Iya, Ki..." jawab Suroso, refleks menunduk hormat. "Ehem! Silakan masuk, Ki."
Ki Rebo melangkah melewati ambang pintu. Baru dua langkah kakinya berpijak di ruang tengah, hidungnya langsung mekar kempis. Udara pengap dan beracun dari kebocoran gas menyergap paru-parunya. Efek pusing ringan langsung menghantam pelipis si dukun gadungan.