Angkat Koper, Angkat Tangan

Bi Bluu
Chapter #17

Ritual Backfire

Malam merayap turun ibarat gumpalan jelaga tebal yang membungkus rumah tua itu dalam kegelapan yang mencekam. Tepat pukul sepuluh malam, sesuai dengan instruksi Ki Rebo, seluruh akses ke dunia luar telah dimusnahkan. Pintu depan diganjal balok kayu, jendela dapur dikunci mati, dan celah ventilasi di atas langit-langit dilapisi selotip hitam tebal hingga tak ada selembar embusan udara segar pun yang mampu menyelinap masuk.

Di tengah ruang tengah, gumpalan racun yang merembes tiada henti dari pori-pori lantai semen telah mencapai taraf kepekatan yang melumpuhkan. Udara terasa sangat berat, dan hangat oleh kelembaban yang terperangkap. Di atas nampan kayu yang dilapisi kain merah kusam di tengah ruangan, tergeletak syarat utama ritual: dua buah cincin emas, sebuah kalung rantai tipis milik Endang, serta uang tunai pecahan seratus ribuan sisa-sisa pesangon Suroso yang semakin menipis.

Ki Rebo duduk bersila di depan nampan tersebut. Jubah naga hitamnya tampak berkilau kusam disiram cahaya remang-remang lilin merah yang ditancapkan pada piring seng. Di sekeliling sang dukun gadungan, Suroso, Endang, dan Dodi duduk meringkuk membentuk setengah lingkaran dengan wajah pucat dan mata berair akibat iritasi udara.

"Aura malam ini... sungguh pekat dan haus," bisik Ki Rebo dengan suara berat yang dipaksakan bergema. Ia membuka sebuah mangkuk gerabah kecil, lalu menumpahkan segenggam besar kemenyan murah berkualitas rendah yang dibelinya secara grosiran dari pasar loak.

Dengan gerakan teatrikal yang anggun, Ki Rebo menyulut kemenyan itu memakai korek api. Pshhh...

Seketika, asap putih tebal membumbung tinggi, bergulung-gulung memenuhi udara ruang tengah yang kedap. Asap kemenyan yang tajam dan berbau sangit itu langsung bertabrakan dengan gas karbon monoksida yang tak berbau. Efek reaksinya sungguh dahsyat. Dalam hitungan detik, oksigen di ruang tengah menyusut ke titik kritis, menciptakan ruang hampa beracun yang langsung menyerang sistem saraf siapa pun di dalamnya.

"Khuk! Khuk!" Suroso terbatuk-batuk keras, memegang dadanya yang terasa dihantam beban berat. "Ehem! Khuk! Ki... ini racikan asapnya kok perih banget di mata, ya? Dada saya sampai ikutan sakit."

"Tahan, Pak!" pangkas Ki Rebo tegas, seraya komat-kamit merapalkan mantra asal-asalan yang merupakan campuran dari nama-nama jenis panci dan merek perabot rumah tangga yang pernah ia jual. "Omm... Teflon Supra Wok Marble Stainless Steel Panci Presto Mumpuni... Omm..."

Endang memeluk lengan Suroso erat-erat, matanya berkunang-kunang hebat. "Pah... kenapa dinding rumah ini rasanya meliuk-liuk kayak mie goreng, Pah?"

"Itu... itu efek pembersihan hantunya, Mah..." sahut Suroso pasrah, padahal pandangannya sendiri sudah berbayang tiga.

Dodi yang duduk paling belakang memegang raket nyamuk listriknya dengan lemas. "Aduh, mata Dodi udah burem parah ini. Pandanganku jadi kotak-kotak kayak main game Nintendo jaman dulu… "

Namun, orang yang paling terpukul oleh kondisi ini sebenarnya adalah Ki Rebo sendiri.

Sebagai orang yang paling dekat dengan mangkuk gerabah kemenyan, Ki Rebo menghirup asap beracun itu dalam skala paling masif. Paru-parunya tersiksa hebat. Dalam hitungan menit, efek anoksia otak akibat paparan gas CO dosis tinggi bercampur asap pekat itu mulai bekerja dalam kepala sang dukun gadungan. Otak Ki Rebo melintir hebat. Pikirannya yang semula licin dan penuh daya tipu-menipu mendadak diserbu oleh gelombang disorientasi, vertigo dahsyat, dan halusinasi visual tingkat tinggi.

Lilin merah di depannya tampak membesar sepuluh kali lipat, membakar pandangannya. Mantra panci prestonya yang semula diucapkan dengan fasih mendadak kacau balau.

"Omm... Teflon... Khuk! Khuk!... Teflon bergoyang... keramik anti lengket... Argh!" Ki Rebo memegang kepalanya yang mendadak terasa dihantam palu godam. Pelipisnya berdenyut bagai mau meledak, matanya merah membara dan berair deras.

"Ki... Ki Rebo kenapa?" tanya Endang cemas melihat Ki Rebo mulai menari-nari aneh di atas matrasnya.

"S-Saya... saya sedang bertarung... bertarung jarak dekat dengan raja hantunya!" alibi Ki Rebo dengan suara yang mulai serak dan gemetar ketakutan.

Lihat selengkapnya