Kaburnya Ki Rebo malam itu bukan sekadar melahap perhiasan dan sisa tabungan keluarga Suroso ke kegelapan gang; peristiwa itu menjatuhkan domino pertama dari runtuhnya sisa-sisa mentalitas rasional mereka. Udara malam yang sempat menerobos masuk melintasi pintu depan yang didobrak si dukun kini kembali diisolasi rapat-rapat. Suroso, dengan sisa-sisa tenaga dan jemari yang bergetar hebat, telah mengunci kembali pintu jati itu, memasang ganjalan balok kayu yang lebih tebal, dan melapisinya dengan bertumpuk-tumpuk selotip hitam sampai tak ada lagi batas yang tersisa antara rumah dan dunia luar.
Di dalam ruangan yang kedap udara tersebut, sisa-sisa asap kemenyan murah Ki Rebo bereaksi secara harmonis dan destruktif dengan gas karbon monoksida yang terus merembes tanpa henti dari pori-pori ubin. Konsentrasi racun yang kian pekat itu menciptakan kabut tipis tak terlihat yang mengepung otak ketiga penghuninya, memilin persepsi mereka hingga ke titik paling absurd.
"Pah... Papah..." suara Endang memecah keheningan yang amat sangat pekat di ruang tengah. Ia duduk bersila di atas lantai ubin yang dilapisi dua tumpuk karpet bulu Sintetis yang sudah kusam. Matanya yang merah bengkak menatap kosong ke arah nampan kayu kosong bekas ritual. "Dukun sakti pilihan grup WA... yang katanya bisa menaklukkan genderuwo aja sampai berlutut... lari ketakutan sambil ngaku sales panci..."
Suroso terduduk lemas di samping istrinya. Kerah kemeja lusuhnya basah kuyup oleh keringat dingin. Kacamatanya melorot miring di pangkal hidung, namun ia bahkan tidak memiliki energi untuk membetulkannya.
"Ehem..." Suroso mencoba berdehem, tetapi yang keluar dari tenggorokannya hanyalah suara decitan parau yang menyedihkan. "Logikanya gini, Mah... kejadian tadi itu bukti kalau emang setannya level tinggi. Makanya si dukun langsung putar otak dan pura-pura jadi sales panci, biar nyawanya aman!"
"Tapi perhiasan Mama dibawa lari, Pah!" desis Endang pelan, mencengkeram lengan baju Suroso. "Cincin kawin kita, kalung peninggalan Ibu... semuanya amblas dibawa sales panci itu! Kalau dukun sakti saja sampai harus numbalin perhiasan kita demi nyawanya sendiri, terus nasib kita bertiga gimana, Pah?!"
Dodi yang meringkuk di sudut benteng sofa memeluk raket nyamuk listriknya ibarat guling kesayangan. Layar ponselnya mati total, kehabisan daya, memutus sepenuhnya satu-satunya saluran koneksi Gen Z-nya ke dunia luar.
"Aduh, kacau ini…" gumam Dodi dengan tatapan kosong, pusing melihat gorden jendela yang tampak bergoyang-goyang. "Dukun yang jago banget aja langsung kabur di menit pertama. Ini bukan musuh biasa, Pa. Rumah kita udah dikuasai admin alam gaib. Kita sengaja dikunci di dalam biar nggak bisa keluar."
"Dod, jangan bikin tambah pusing!" potong Endang dengan napas terengah-engah. Minyak kayu putih yang dioleskannya di kening sudah mengering menjadi lapisan kerak putih, membuat keningnya tampak seperti ditaburi tepung kanji. "Pikirkan cara! Katanya kamu anak teknik! Cari di internet gimana cara batalin penumbalan!"
"Sinyal ilang total dari semalam, Ma!" kata Dodi pasrah sambil nyenggol HP-nya yang tak berguna. "Lagian kalau ada sinyal, emang di Google ada tutorial 'Cara Refund Tumbal Dukun Palsu Berbaju Naga'? Enggak ada, Pa, Ma. Kita udah nggak ada harapan ini!"
Suroso memejamkan matanya erat-erat. Pelipisnya berdenyut-denyut kencang, menghantam otak belakangnya dengan denyutan konstan yang menyiksa—efek klasik racun yang makin menguasai aliran darahnya. Namun, di bawah pengaruh racun kimia itu, pikiran Suroso menyusun rantai logika gila yang terasa sangat masuk akal bagi otaknya yang sedang linglung.
"Dengarkan Papa," ujar Suroso dengan nada bicara yang diperlambat, seolah-olah ia sedang menyampaikan amanat terakhir seorang jenderal di garis depan pertempuran. "Ki Rebo kabur tepat jam setengah sebelas malam. Secara siklus energi spiritual dan kalkulasi jam biologis... itu artinya tenggat waktu yang diberikan oleh penunggu tempat ini jatuh pada malam ini. Tepat pukul dua belas malam."
Endang mendadak berhenti bernafas sejenak. Wajahnya yang pucat kian memutih bagai kertas HVS. "M-Malam ini, Pah? Pukul dua belas nanti?"