Di dalam rongga sempit tenda parasut oranye itu, waktu seolah kehilangan porosnya. Jarum jam digital di pergelangan tangan Suroso merayap lambat ibarat siput yang merangkak di atas tumpukan oli bekas.
Pukul 23.52 WIB.
Udara di dalam dom plastik itu bukan lagi sekadar pengap; ia telah menjelma menjadi adonan racun tak terlihat, sarat dengan karbon monoksida yang terkunci rapat bersama kepulan napas berbau minyak kayu putih dan keringat dingin tiga manusia yang tersudut.
Kekurangan oksigen tingkat berat (hipoksia) bercampur efek toksik gas CO kini menghantam otak keluarga Suroso pada taraf puncaknya. Neuron-neuron di dalam kepala mereka mengalami pendarahan sinyal secara masif. Batas antara kenyataan, ketakutan, dan absurditas semakin menipis, melahirkan ruang ilusi visual dan auditori yang spektakuler—sekaligus konyol bukan main.
"Pah... Papah..." bisik Endang dengan mata melotot lebar. Matanya yang merah perih menatap lurus ke atap tenda yang cuma diterangi lampu jam digital. "Lihat enggak... kain tendanya... kok numbuh bulu-bulu hitam gitu?!"
Suroso membetulkan posisi kacamatanya yang sudah tidak memiliki gagang sebelah akibat terinjak semalam. Matanya juling, pupilnya membesar dan mengecil secara tidak teratur. "B-Bukan bulu, Mah..." sahut Suroso dengan suara gemetar kaku. "Mungkin itu reaksi kain tendanya yang... yang menandakan makhluk itu sudah dekat!"
Padahal, yang dilihat Endang hanyalah serat-serat benang kain tenda tua yang mencuat akibat tersenggol siku Dodi. Namun di dalam kepala Endang yang sedang teracuni berat, benang-benang itu tampak meliuk-liuk seperti cacing tanah ajaib yang sedang menari salsa.
"Pa... Ma..." sela Dodi dengan suara yang sangat pelan dan datar, mirip ponsel yang kehabisan baterai. Wajahnya pucat pasi, kepalanya terkulai meliuk ke kanan. "Dodi ngeliat... ngeliat bayangan Kunti naik sepeda roda tiga di luar."
"Jangan bikin Mama makin takut, Dod!" jerit Endang histeris tanpa suara, refleks mengoleskan sisa-sisa minyak kayu putih terakhir langsung ke kelopak matanya sendiri. Pssst!
"AARGHHH! PERIH, PAH! M-MATA MAMA KEBAKAR!" raung Endang mendadak, menggeliat-geliat di dalam tenda yang sempit hingga kakinya menendang rusuk Suroso.
"Aduh, Mah! Bentar! Jangan banyak gerak!" pekik Suroso panik, ikut bergeser dan menabrak tiang fiber tenda. KLEK! Rangka fibernya langsung patah. "duh, tameng kita jebol! Sinyal otak kita lagi dibajak sama penunggu rumah!"
Kekacauan di dalam tenda makin tak terkendali sewaktu efek efek vertigo dahsyat menghantam mereka secara bersamaan. Dunia di dalam tenda mendadak terasa berputar 360 derajat. Suroso merasa dirinya sedang berada di dalam wahana roller coaster yang meluncur tajam ke bawah, sementara Endang merasa tubuhnya melayang-layang seperti balon gas yang lepas di udara.
"Pah! Rumah kita terbang, Pah! Karpetnya melayang!" jerit Endang sambil mencengkeram erat kaos kerah Suroso hingga leher kemeja itu tertarik ketat menekan jakun sang suami.
"Uhuk! Uhuk! Mah... leher Papa... leher Papa kecekik!" erang Suroso, lidahnya menjulur sedikit karena kausnya benar-benar ditarik terlalu kencang oleh istrinya yang sedang panik ilusi.