Jarum jam digital di pergelangan tangan Suroso akhirnya berkedip pelan, berganti angka dengan kejam: 00.00.
Tengah malam telah tiba. Angka empat digit berkuasa penuh di atas layar LCD redup itu. Di dalam rongga tenda oranye yang kian menyesakkan, hening mendadak jatuh ibarat vonis mati yang tak bisa diganggu gugat. Tidak ada petir yang menyambar, tidak ada lolongan anjing melengking, dan tidak ada sosok bertanduk yang merobek kain nilon tenda mereka. Hanya ada suara napas tiga manusia yang tersengal-sengal berat, oleh karbon monoksida dan beban trauma yang terakumulasi berhari-hari.
Suroso memejamkan mata rapat-rapat, merangkul bahu istri dan anaknya lebih erat. Tubuhnya gemetaran hebat. Setiap detik yang berlalu dalam keheningan itu terasa seperti tiang gantungan yang siap dihenyakkan.
"Pah..." bisik Endang, suaranya parau, tersendat di tenggorokan yang terasa penuh pasir kering. "Sudah... sudah jam dua belas ya, Pah?"
"S-Sudah, Mah..." jawab Suroso pelan. Matanya terpejam kencang seolah-olah jika ia membuka mata, sesosok iblis raksasa akan langsung menyambar mukanya. "Ehem..." Namun batuk dehamannya kali ini benar-benar kehilangan seluruh nada wibawa. Suaranya serak, cempreng, dan menyedihkan. "Ini kemungkinan... adalah waktu transisi..."
"Papah, stop!" potong Endang tiba-tiba. Suara sang istri tidak lagi melengking panik, melainkan datar, hampa, dan dipenuhi kepasrahan tingkat tinggi. "Mama mohon... stop bawa-bawa rumus, stop bawa-bawa kalkulasi, stop bawa-bawa istilah sains yang Mama nggak paham. Kita ini sebentar lagi mau dijemput ajal, Pah. Tolong bicara pakai bahasa manusia."
Suroso bungkam. Bibirnya yang pucat kelabu gemetaran. Kata-kata istrinya menghantam tepat di pusat jantung gengsinya yang selama ini ia jaga mati-matian.
Di samping mereka, Dodi sesenggukan pelan. Air matanya menetes merembes ke hoodie-nya yang sudah apek. "Dodi nggak mau mati konyol di dalam tenda begini, Pa... Dodi belum sempet wisuda... Dodi belum pernah ngerasain punya pacar yang benar-benar nyata, bukan cuma anime..."
"Dodi..." Endang meraba kepala anaknya, membelai rambut Dodi yang lepek oleh keringat. "Kalau Mama ada salah sama kamu... Mama minta maaf ya, Nak. Mama sering maksa kamu buat selalu dapet nilai bagus..."
"Dodi juga minta maaf, Ma..." rintih Dodi, hidungnya mampet. "Dodi sering pura-pura belajar di kamar padahal cuma main game sambil maki-maki orang... Dodi juga sering ngambil uang kembalian beli galon..."
Atmosfer di dalam tenda oranye yang gelap dan pengap itu mendadak berubah menjadi ruang pengakuan dosa massal yang sangat emosional—sekaligus absurd luar biasa. Di bawah tekanan hipoksia otak dan ketakutan akan kematian yang begitu nyata, benteng kepura-puraan yang dibangun keluarga ini runtuh menjadi abu.
Suroso menelan ludah yang terasa pahit bagai empedu. Dadanya sesak, bukan hanya karena gas CO yang meracuni darahnya, tetapi karena tumpukan gengsi puluhan tahun yang menekan matanya hingga berair.
Ia memegang kacamata retaknya, meremas jemarinya sendiri yang tremor.
"Mah..." suara Suroso pecah. Suara pria paruh baya yang akhirnya menyerah pada kenyataan. "Papa... Papa sebenarnya nggak tahu apa-apa soal rumah tua ini..."
Endang tertegun. Dodi berhenti sesenggukan.
"Papa... cuma takut kelihatan gagal di mata Mama," tangis Suroso akhirnya pecah tanpa bisa ditahan lagi. Airmata meluncur deras melintasi pipinya yang keriput dan belepotan jelaga kemenyan. "Tabungan Papa udah ludes gara-gara investasi bodong kemarin, Mah... Papa gak mampu sewa rumah mewah di perumahan modern. Sisa dana pensiun Papa cuma cukup buat ngontrak rumah tua ini!"