Cahaya fajar menyelinap malu-malu dari celah selotip hitam yang mulai mengelupas di pinggiran kusen jendela luar. Sinar matahari pagi yang hangat menembus kepekatan ruang tengah rumah tua itu, menerpa debu-debu melayang yang tertahan di udara pengap. Namun, di dalam tenda parasut berwarna oranye menyala yang berdiri kaku di antara tumpukan sofa, tidak ada tanda-tanda kehidupan yang bergerak.
Tiga jiwa di dalamnya—Suroso, Endang, dan Dodi—terkapar teler. Wajah mereka pucat dengan rona kemerahan yang aneh di bagian pipi (gejala khas keracunan gas karbon monoksida tingkat lanjut). Pernapasan mereka sangat lambat, diiringi dengkur halus yang bersahut-sahutan seperti irama kompresor rusak.
Efek pingsan massal (syncope) akibat hilangnya suplai oksigen ke otak sejak tengah malam tadi telah membawa mereka melintasi alam bawah sadar yang penuh halusinasi absurd. Suroso bermimpi sedang menghadiri seminar fisika kuantum dengan pembicara seorang pocong bersetelan jas. Endang bermimpi tenggelam di dalam kolam minyak kayu putih raksasa bersama anggota grup WA Bunda-Bunda Ceria. Sementara Dodi bermimpi sedang duel pedang melawan Ki Rebo dengan mengendarai panci teflon terbang.
Tepat pukul tujuh pagi, hembusan angin dari luar berhasil merobek selembar selotip hitam yang menempel kendor di ventilasi depan. Sreeek... Celah kecil itu menjadi satu-satunya saluran yang mengalirkan Oksigen murni dalam kadar sangat minim ke dalam ruangan.
Di dalam tenda, kelopak mata Suroso bergerak-gerak gelisah. Efek racun CO yang sedikit terurai oleh sisa-sisa metabolismenya perlahan-lahan mengembalikan kesadaran sang kepala keluarga dari kegelapan panjang.
Suroso lenguh pelan. "Ughhh..."
Kepalanya terasa seberat cetakan semen tiga puluh kilogram. Pelipisnya berdenyut bagai dihantam martil berulang kali, sementara lidahnya terasa kelu, pahit, dan sekering amplas nomor empat ratus.
Dengan jemari yang gemetaran hebat dan kaku bagai ranting kayu mati, Suroso mencoba menggerakkan tangannya. Tangannya menyenggol bahu Endang yang masih terbaring kaku di dadanya.
"M-Mah..." panggil Suroso dengan suara parau yang nyaris tak terdengar, mirip desisan ban bocor. "Mah... bangun, Mah..."
Endang mengerang pelan. "Oooogh..." Mata Endang terbuka sedikit, hanya menyisakan celah tipis. Pandangannya benar-benar kabur. Cahaya remang-remang yang menerobos kain tenda oranye membuat pandangannya tampak seperti berada di dalam perut pepaya matang.
"P-Pah..." bisik Endang dengan bibir gemetaran. "Kita... kita ada di mana, Pah? Ini... ini alam kubur ya?"
Suroso mencoba mengedipkan matanya berulang kali untuk menjernihkan pandangan. Ia menoleh ke arah kakinya dan melihat Dodi melengkung seperti udang rebus dengan raket nyamuk mati yang masih dijepit di antara kedua lututnya.
"Sebentar... sepertinya bukan, Mah..." gumam Suroso. Dia refleks ingin berdehem, tapi tenggorokannya terlalu kering sampai gak keluar suara. "Kalau ini beneran alam kubur... kok warna dindingnya oranye nilon begini? Terus... bau minyak kayu putihnya juga masih kecium..."
Dodi mendadak tersentak bangkit, matanya membelalak kaget. "Agh! Jangan tembak! Gue bukan musuh!" jerit sang anak spontan sebelum akhirnya terkulai kembali karena vertigo dahsyat menyambar otaknya. Bruk!
"Dodi! Kamu masih hidup, Nak?!" tanya Endang lemah, tangannya menggapai-gapai udara untuk menyentuh kaki anaknya.
Dodi memegang kepalanya yang rasanya mau pecah menjadi delapan bagian. "Aduh, pusing banget, Ma... Otak Dodi berasa abis kena amnesia. Mana mata masih burem lagi, ngelihat sekeliling belum jelas."
Suroso perlahan-lahan merayap menuju resleting tenda. Tangannya yang lemah mencoba menarik kait besi itu. Sreeek...
Resleting terbuka. Udara ruang tengah yang masih pengap—namun sedikit lebih segar dibandingkan udara terkunci di dalam tenda—menyergap wajah Suroso. Sang kepala keluarga menjulurkan kepalanya keluar dari tenda, menatap sekeliling ruang keluarga dengan pandangan pasrah yang mendalam.
Sisa-sisa mangkuk kemenyan Ki Rebo yang pecah di lantai, bekas semprotan disinfektan Endang di tembok, serta tumpukan selotip hitam di kusen jendela masih berdiri utuh. Tidak ada naga hitam, tidak ada hantu penagih tumbal, dan tidak ada jejak Ki Rebo.
"Pah..." Endang menyusul menjulurkan kepalanya keluar dari resleting tenda, disusul Dodi di atasnya. Pemandangan tiga kepala manusia yang bertumpuk keluar dari lubang tenda oranye itu tampak luar biasa menggelikan. "Gimana situasi di luar, Pah? Hantunya... hantunya udah pergi?"