Kata "kebocoran pipa gas" masih mengangkasa di udara pengap ruang tengah, menggantung seperti bom waktu yang baru saja menjatuhkan pin pengamannya. Di dalam benak Suroso, Endang, dan Dodi, frasa itu bertabrakan hebat dengan tumpukan dogma mistis yang selama berbulan-bulan telah memilin otak mereka.
Hantu penagih tumbal? Lenyap.
Teror ketukan lantai? Menguap.
Mantra panci teflon Ki Rebo? Berubah menjadi komedi tragis yang teramat konyol.
"P-Pah..." bisik Endang, suaranya gemetar kaku bagai senar gitar yang hendak putus. Matanya yang merah membengkak menatap pintu depan yang masih terganjal balok kayu jati. "Petugas gas... tadi Pak RT bilang petugas gas, kan? Bukan petugas pencabut nyawa?"
Suroso tidak menjawab seketika. Lidahnya yang kering dan pahit terasa kelu melilit di dasar mulutnya. Ia menatap selotip hitam yang membalut kusen pintu dengan tatapan kosong seorang prajurit yang baru sadar bahwa selama ini ia bertempur melawan bayangannya sendiri di dalam cermin.
"Ehem..." Suroso mencoba memompa sisa-sisa wibawa lamanya, namun yang keluar hanyalah suara desisan dari paru-parunya yang tersiksa racun. "Mah... kesimpulannya gini... kalau di luar itu beneran petugas gas... artinya... artinya kita bertiga selama ini bukan diganggu hantu, tapi..."
"KITA KERACUNAN GAS, PA! KITA TELER BARENG!" potong Dodi seraya menepuk jidatnya sendiri begitu keras hingga meninggalkan bekas merah. PLAK! Dodi tertawa melengking, sebuah tawa histeris khas korban trauma yang mendadak menemukan pintu keluar dari labirin kegilaan. "Anjirrr! Berhari-hari kita berlumuran bau minyak kayu putih, kemping dalam tenda, sama semprot disinfektan sana sini... ternyata kita cuma keracunan pipa bocor!"
GEDOR! GEDOR! GEDOR!
Pintu depan kembali dihantam dari luar. Kali ini bukan sekadar gedoran tangan telanjang, melainkan benturan keras dari linggis atau bahu manusia yang mencoba mendobrak paksa.
"PAK SUROSO! JANGAN MATII DULU! BUKA PINTUNYA!" suara Pak RT kembali melengking dari luar, bercampur dengan kehebohan warga desa yang mulai berkumpul di teras. "Petugas PGN bilang gasnya udah numpuk banyak di dalam! Kalau ada percikan api dikit aja bisa meledak, nyawa kalian bisa lewat, Pak!"
"Astagfirullahaladzim, Pak Suroso!" kini giliran suara cempreng Pak Hadi, tetangga sebelah, yang menyambar menembus sela-sela kayu. "Pantas aja tiap malem rumahmu bau sangit kayak gudang mesiu! Saya kira kamu bakar ban bekas! Buka pintunya, Cepet!"
Di luar teras, suasana memang sudah berubah menjadi zona evakuasi bencana skala RT. Dua mobil dinas kuning milik Perusahaan Gas Negara terparkir melintang di gang sempit depan rumah. Petugas-petugas berseragam jingga dengan helm keselamatan keras dan masker respirator canggih sibuk memegang alat gas detector yang terus meracau bising: BEEP! BEEP! BEEP! BEEP!
"Kadar CO di ambang batas berbahaya! Evakuasi Penghuni Sekarang!" teriak komandan tim PGN dari luar memakai megapon. "Ingat, jangan nyalain saklar listrik dulu! Jangan nyalain korek! Jangan ada yang ngerokok!"
Di dalam ruangan, keluarga Suroso mendadak dilanda kepanikan tipe baru. Bukan lagi kepanikan dikejar setan, melainkan kepanikan kepasrahan yang luar biasa canggung.
"Pah! Cepet buka pintunya, Pah!" seru Endang sambil mencoba berdiri, namun lututnya lemas bagai jeli kocok. Ia kembali jatuh terduduk di atas karpet bulu. BRUK! "Aduh! Kaki Mama lemes banget, Pah, gak kuat buat jalan!"
"Dod! Dodi, bantu Papa buka ganjalan balok itu!" perintah Suroso. Sang kepala keluarga merayap di atas lantai semen, menyeret fisiknya yang lelah dan pusing menuju pintu depan.
Dodi ikut merayap di samping bapaknya, masih memegang raket nyamuk mati yang tak kunjung ia lepaskan. "Pa! Ini selotipnya rapat banget! Waktu Papa pasang kemarin pakai lem juga ya?!"