UGD rumah sakit pagi itu beraroma tajam antiseptik dan karbol murni—sebuah aroma medis yang dingin, jujur, dan berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat dari bau sangit kemenyan Ki Rebo maupun aroma minyak kayu putih Endang.
Di atas tiga ranjang periksa yang dipisahkan oleh tirai hijau muda, tiga anggota keluarga Suroso terbaring dengan posisi setengah duduk. Selang kanula oksigen melingkar manis di bawah hidung mereka masing-masing, mengalirkan Oksigen murni yang perlahan-lahan menyapu sisa-sisa molekul karboksihemoglobin dari dalam pembuluh darah.
Di ujung ranjang, berdiri Dokter Handoko—seorang dokter senior berambut perak dengan kacamata minus tebal yang menempel kaku di pangkal hidungnya. Di samping sang dokter, seorang teknisi PGN (Perusahaan Gas Negara) berseragam jingga memegang sebendel papan jalan bertumpuk kertas laporan teknis dan denah pipa bawah tanah.
Dokter Handoko menggeser lembar hasil tes darah dari laboratorium, lalu menatap keluarga Suroso bergantian di balik kacamatanya. Tatapannya bukan tatapan vonis medis yang menakutkan, melainkan kombinasi antara rasa heran yang amat sangat mendalam, rasa geli yang ditahan, dan keheranan atas daya tahan hidup tiga manusia di depannya.
"Pak Suroso, Bu Endang, dan Mas Dodi..." Dokter Handoko memulai pembicaraan dengan suara beratnya yang tenang, mengetuk-ngetukkan pulpennya ke lembar medis. "Saya udah dinas di rumah sakit ini dua puluh lima tahun. Pernah nanganin pasien dipatok ular, keracunan massal, sampai orang stres gara-gara kalah Pilkada. Tapi kasus kalian bertiga ini... bener-bener keajaiban yang baru pertama kali saya liat."
Suroso membetulkan letak selang oksigennya dengan jari yang masih agak gemetaran. "Ehem..." kata Suroso, suaranya kini terdengar jernih tanpa beban gengsi lagi. "Maksud Dokter... racun di tubuh kami emang separah itu?"
"Bukan bahaya lagi, Pak!" Dokter Handoko tertawa kecil, tawanya kering bikin Endang makin erat meremas sprei kasurnya. "Pak Suroso, kadar gas racun di darah kalian bertiga pas dicek tadi sudah di atas tiga puluh persen! Angka segitu tuh harusnya udah bikin pasien kejang, koma, atau minimal amnesia. Tapi kalian bertiga... malah sempet-sempetnya pasang tenda kemping di dalem rumah sambil main raket nyamuk!"
Dodi menyela pelan dari ranjang sebelah, suaranya sedikit bergema di dalam masker oksigennya. "Dok... raket nyamuk itu jadi senjata pertahanan saya. Kalau gak ada itu, mental saya udah drop parah dari kemarin."
"Mentalmu itu bukan drop, Mas Dodi!" sahut Dokter Handoko gemas, menunjuk lembaran kertas tes darah. "Otakmu itu lagi overheating gara-gara kekurangan oksigen! Dengar ya, saya jelaskan secara gamblang supaya kalian nggak mikir mistis-mistis lagi"
Dokter Handoko berdehem, mengetuk kertas Laporan Medis. "Gas karbon monoksida (CO) itu sifatnya sangat licik. Kita nggak bakal sadar karena nggak ada bau, warna, atau rasa. Masalahnya, gas ini mengikat darah jauh lebih cepat daripada oksigen. Akibatnya apa? otak kalian jadi kekurangan oksigen, istilah medisnya Hipoksia Otak."
Endang melongo lebar, matanya berkedip-kedip kaku. "H-Hipoksia Otak, Dok? Maksudnya... otak kami jadi error?"
"Bukan error, Bu Endang! Otak Ibu mengalami distorsi persepsi!" pangkas Dokter Handoko tajam namun santai. "Gejala utama keracunan gas CO dosis sedang hingga berat emang bikin pusing berdenyut di pelipis, mual, lemas pada otot kaki, disorientasi ruang, sampai yang paling krusial... HALUSINASI VISUAL DAN AUDITORI!"
Dokter Handoko menoleh ke arah teknisi PGN di sampingnya. "Nah, Mas Mas dari PGN ini yang paham bagaimana racun itu bisa masuk ke rumah kalian selama ini."
Teknisi PGN berwajah tegas itu maju satu langkah, membuka lembar denah konstruksi peninggalan era kolonial.
"Begini, Pak Suroso," ujar sang teknisi menjelaskan dengan suara mantap. "Rumah tua Bapak itu berdiri tepat di atas jalur pipa gas kota buatan pabrik gula era Belanda tahun 1930-an. Pipanya sih udah nggak berfungsi dari belasan tahun lalu. Tapi, tepat di bawah lantai ruang tengah Bapak, ada pipa yang retak dan tersambung ke kantong gas alam."