Angkat Koper, Angkat Tangan

Bi Bluu
Chapter #24

Detoksifikasi Pikiran

Sore hari di ruang rawat inap rumah sakit terasa jauh lebih manusiawi. Sinar matahari barat yang hangat menyusup melintasi tirai tipis yang melambai-lambai ditiup angin sepoi-sepoi. Jendela kamar rumah sakit itu dibiarkan terbuka lebar-lebar—sebuah instruksi medis yang tidak hanya dipatuhi secara harfiah oleh keluarga Suroso, tetapi dipeluk erat-erat ibarat dogma agama baru.

Di atas tiga bangsal yang berjejer rapi, selang kanula oksigen akhirnya dicopot dari hidung Suroso, Endang, dan Dodi. Tubuh mereka yang berhari-hari mengendap dalam kecemasan dan racun kini terasa luar biasa ringan. Tanpa beban hipoksia yang membelenggu sinapsis otak, proses pembersihan mental—sebuah detoksifikasi pikiran yang sejati—dimulai dengan irama tawa dan celotehan yang membebaskan.

Suroso duduk bersandar pada tumpukan bantal putih yang empuk. Wajahnya yang biasa kaku, tegang, dan selalu ditekuk penuh beban pura-pura ilmiah kini tampak lentur. Tidak ada lagi kerutan paranoid di dahi. Kacamata retaknya sudah diselotip rapi oleh Dodi di bagian gagang, bertengger tenang di atas hidungnya yang tak lagi kempis-kempis menahan napas pengap.

Di ranjang sebelah, Endang sibuk mengoleskan lotion pelembab ke tangannya yang sempat kering akibat semprotan disinfektan dan gesekan plastik selotip. Sementara Dodi meluruskan kakinya yang panjang, memegang ponselnya yang kini sudah diisi daya penuh oleh perawat UGD.

"Pa..." panggil Dodi sambil menggeser layar ponselnya, bibirnya tersenyum lebar. "Otak Dodi rasanya kayak baru bagun dari amnesia. Pandangan mata Dodi udah jernih lagi sekarang, nggak ada lagi bayangan yang pecah-pecah."

Suroso terkekeh pelan. Suara tawanya renyah, lepas dari tenggorokan yang tak lagi tercekik deheman gengsi. "Ehem..." Suroso mencoba berdeham sekali, lalu buru-buru menepuk mulutnya sendiri sambil tersenyum canggung. "Aduh, kebiasaan buruk... Sekarang kalau Papa mau berdehem, Papa harus izin dulu sama kalian."

Endang menoleh, melipat tangannya di dada sambil menyunggingkan senyum mengejek yang hangat. "Harus itu, Pah! Setiap kali Papah berdehem, Mama rasanya mau langsung ambil selotip hitam buat menyumbat mulut Papah! Berhari-hari Mama dikasih makan istilah ilmiah, ujung-ujungnya kita cuma keracunan gas!"

"Tapi, Mah..." Suroso membela diri dengan raut wajah jenaka, memajukan tubuhnya. "Kalau dipikir-pikir lagi... teori Papa waktu itu kan nggak sepenuhnya salah."

Endang membelalakkan mata, berpura-pura mengambil bantal untuk dilempar. "Masih berani kamu bawa-bawa teori, Pah?!"

"Bukan teori ilmiah lagi ini, Mah!" potong Suroso cepat-cepat sambil mengangkat kedua tangannya menyerah. "Maksud Papa, waktu Papa bilang ada 'pergeseran lempeng ubin', secara teknis di bawah ubin kita memang ada retakan pipa gas tua! Jadi... prediksi Papa sedikit akurat!"

Dodi meledak dalam tawa kecilnya dari atas ranjangnya. "Akurat dari mananya, Pa?! Itu namanya kebetulan aja! Sama aja kayak orang nebak cuaca bakal hujan gara-gara dengar suara katak!"

"Hush! Dod! Jangan makin ngeledek papamu gitu!" tegur Endang, walau dirinya sendiri tak sanggup menahan tawa hingga bahunya bergoyang-goyang.

Detoksifikasi pikiran itu mengalir begitu alami. Satu per satu ingatan konyol berhari-hari lalu dibongkar kembali, bukan lagi sebagai sumber ketakutan yang mencekam, melainkan sebagai bahan lelucon keluarga yang akan dikenang seumur hidup.

"Pah..." kata Endang sambil merapikan kain selimutnya. "Mama masih nggak habis pikir sama disinfektan. Dulu waktu Mama semprotkan ke sudut ruangan, Mama rasanya bangga banget, berasa jadi pemburu hantu profesional."

Lihat selengkapnya