Aroma tanah basah disiram gerimis sore menyambut kepulangan keluarga Suroso dari rumah sakit. Angin segar bertiup bebas melintasi jalanan gang, membersihkan sisa-sisa trauma dan ketakutan yang berhari-hari menggantung kaku di udara.
Tiga sosok itu melangkah beriringan memasuki pekarangan rumah tua mereka. Suroso berjalan di depan membawa tas plastik berisi sisa obat dan berkas rekam medis, Endang mengekor di sampingnya dengan tas tangan yang tak lagi dipenuhi botol minyak kayu putih, dan Dodi berjalan santai di belakang sambil bersiul lagu pop terkini—raket nyamuk listriknya kini sudah pensiun manis di dasar tong sampah rumah sakit.
Rumah tua itu tak lagi tampak mencekam. Tim Perusahaan Gas Negara (PGN) bersama Pak RT dan warga sekitar telah bekerja bakti membantu membersihkan. Pipa besi peninggalan Belanda di bawah tanah telah dimatikan total, keretakan ubin semen di dekat lemari jati sudah ditambal dengan semen instan tebal, dan yang paling krusial: seluruh lapisan selotip hitam yang membelenggu kusen pintu serta ventilasi telah dikelupas bersih.
Jendela-jendela kayu jati tua kini terbuka lebar-lebar. Angin bertiup leluasa, menembus dari teras depan hingga ke halaman belakang, mengusir bau sangit kemenyan Ki Rebo dan racun karbon monoksida hingga ke molekul terakhir.
"Wah..." gumam Endang seraya berdiri di ambang pintu depan, menghirup udara dalam-dalam. Paru-parunya mekar sempurna. "Ternyata rumah ini kalau jendelanya dibuka dan nggak dilakban, rasanya adem banget ya, Pah? Ndak ada bau gosong lagi, cuma bau semen basah."
Suroso melangkah masuk ke ruang tengah, membetulkan kacamata retaknya yang kini ditempel selotip bening secara rapi. Sang kepala keluarga menatap sekeliling ruangan yang kini terang benderang disiram cahaya sore.
Tenda parasut oranye yang sempat menjadi benteng pertahanan terakhir mereka sudah dilipat rapi oleh Dodi dan digantung di sudut. Sofa tua tidak lagi disusun melingkar seperti benteng perang dunia, melainkan dikembalikan ke posisi semula.
"Ehem..." Suroso berdehem. Kali ini, desahannya terdengar sangat percaya diri dan lepas tanpa beban. "Secara arsitektural dan sirkulasi termodinamika... rumah ini sebenarnya punya ventilasi silang yang cukup memadai, Mah. Kemarin itu murni kesalahan variabel manusia... yaitu kita sendiri yang membungkusnya kaya dodol garut."
Endang terkekeh pelan sambil melepas sandal jepitnya. "Pah… mulai lagi deh bawa-bawa istilah-istilah aneh. Tapi nggak apa-apa, kali ini Mama izinkan, soalnya Papa kelihatan ganteng kalau ngomongnya sambil senyum, ndak sambil melotot."
Dodi langsung merebahkan dirinya di atas sofa tua, mengepakkan kedua tangannya seperti membentuk malaikat salju. "Ahhh... Akhirnya! Kasur rumah sakit emang empuk sih, tapi sofa berdebu ini punya nilai emosional yang tak tertandingi."
"Dodi! Jangan tiduran dulu! Bantu Mama rapiin barang-barang!" tegur Endang sambil menepuk paha anaknya memakai gulungan koran bekas. "Kita harus bersihin sisa-sisa kekacauan 'Sekte Tenda Oranye' ini sebelum tetangga datang bertamu!"
"Siap, Kanjeng mulia Mama!" sahut Dodi ceria, melompat bangun dengan kesegaran fisik yang telah pulih seratus persen.
Selama satu jam berikutnya, ruang tengah rumah tua itu riuh oleh kehangatan kerja bakti keluarga. Mereka membersihkan sisa piring seng bekas lilin, menyapu debu di kolak sofa, dan membuang botol-botol disinfektan kosong. Tidak ada lagi bisik-bisik ketakutan, tidak ada lagi kecurigaan pada setiap cermin atau pintu berderit.
Ketika Dodi tidak sengaja menjatuhkan sapu ke lantai—PRANG!—mereka tidak lagi melompat histeris membaca ayat kursi, melainkan tertawa bersama menertawakan kelalaian Dodi.
"Pa," kata Dodi saat mengelap meja kayu. "Uang pensiun Papa yang melayang di investasi itu... bener-bener nggak bisa balik lagi?"
Suroso yang sedang merapikan buku-buku lama di atas rak mendadak menghentikan gerak tangannya. Ia menoleh ke arah anak dan istrinya, lalu tersenyum tipis tanpa rasa malu lagi.
"Nggak bisa kayaknya, Dod," jawab Suroso jujur dan tenang. "Uangnya udah lenyap di alam gaib digital. Tapi... Papa udah daftar jadi guru privat fisika dan matematika buat anak-anak SMA di gang sebelah. Pak RT yang bantu promosiin tadi pagi."
Endang menghentikan sapuannya, menatap suaminya dengan pandangan haru. "Beneran, Pah? Papah mau ngajar privat?"
"Iya, Mah," kata Suroso sambil melangkah mendekati istrinya. "Daripada Papa cuma pakai istilah-istilah ini buat bikin analisis anomali hantu di rumah, mending Papa pakai buat cari uang yang jelas. Biar kita bisa menyicil kebutuhan hidup tanpa harus pura-pura kaya lagi."
Endang tersenyum manis, memegang tangan suaminya dengan erat. "Nggak apa-apa kecil, Pah. Yang penting halal dan Papa nggak pusing sendirian lagi. Soal makan, Mama juga mau mulai jualan kue basah dari rumah. Tadi Bu RT sudah pesan dua puluh kotak bolu kukus."
"Wah! Mantap!" seru Dodi sambil bertepuk tangan. "Kalau gitu Dodi yang jadi kurir express-nya! Tapi komisinya lima persen ya, Ma, buat jajan!"
"Hmm! Kamu ini masih aja minta komisi sama Mama sendiri!" canda Endang sambil mencubit lengan Dodi.
Tawa renyah membahana di ruang tengah itu. Rumah tua yang berhari-hari menjadi kurungan kegelapan dan paranoia kini benar-benar bertransformasi menjadi 'Rumah Kita'—sebuah tempat di mana kebohongan telah runtuh dan digantikan oleh penerimaan, kejujuran, serta cinta yang sederhana.
Matahari mulai tenggelam di ufuk barat, memancarkan warna Jingga keemasan yang menerobos masuk dari jendela depan. Rumah terasa begitu tenang, damai, dan hangat.
"Aduh, nikmatnya hidup normal..." gumam Endang sambil duduk bersandar di sofa bersama Suroso dan Dodi. Mereka bertiga menikmati secangkir teh hangat yang baru diseduh dari dapur.
"Iya, Mah," sahut Suroso, menyeruput tehnya pelan. "Logika udah kembali, paru-paru juga udah bersih dari gas CO, dan masa depan udah siap kita tata lagi. Sungguh... nggak ada yang perlu ditakutkan lagi di rumah ini."