Anila dan Kotak Pos Waktu

Bilsyah Ifaq
Chapter #3

Peta dan Mainan Tua

Anila memutar-mutar ujung rambutnya yang ikal, sebuah kebiasaan yang selalu muncul setiap kali rasa penasarannya memuncak. Di tangannya, selembar kertas kusam dengan tulisan tangan Kakek yang bergetar namun tegas menjadi satu-satunya kompas bagi mereka. "Langkah kecil untuk petualang besar," gumam Anila menirukan gaya bicara Kakek yang selalu menggunakan rima pendek saat memberi perintah. Ia tidak suka menunda waktu jika sebuah misteri sudah berada di depan mata.

Adiknya, Arka, berjalan di belakang sambil terus memegangi pinggiran kaus Anila seolah takut tertinggal oleh langkah kakinya yang cepat. Tanah lembap di halaman belakang rumah tua itu mengeluarkan aroma petrichor yang tajam, bercampur dengan wangi bunga kenanga yang mulai layu. Matahari sore yang mulai meredup memberikan bayangan panjang yang menari-nari di antara semak belukar, menciptakan suasana yang sedikit mencekam namun penuh dengan janji petualangan yang tidak terduga.

Mereka akhirnya berhenti tepat di depan sebuah pohon beringin raksasa yang akar-akarnya menjuntai seperti tirai alam yang tebal. Batang pohon itu begitu besar, mungkin butuh lima orang dewasa untuk bisa memeluknya secara utuh. "Pasti di sini, Arka. Kakek bilang jantung rumah ini ada pada akar yang paling dalam," ucap Anila dengan nada bicara yang penuh keyakinan. Ia segera berlutut di tanah, mengabaikan noda cokelat yang mulai mengotori celana denim kesayangannya demi mencari tanda yang dijanjikan.

Jemari Anila meraba sela-sela akar yang menonjol ke permukaan tanah dengan sangat teliti, mencari sesuatu yang terasa berbeda dari tekstur kayu kasar biasanya. Arka hanya berdiri mematung, matanya berpindah-pindah dari dahan pohon yang tinggi ke arah kakaknya yang mulai menggali tanah dengan tangan kosong. "Kenapa kita tidak pakai sekop saja, Kak?" tanya Arka dengan suara yang sedikit bergetar karena mulai merasa tidak nyaman dengan kegelapan yang perlahan mulai merayap turun.

Anila tidak menjawab, ia justru semakin bersemangat saat ujung jarinya menyentuh sesuatu yang keras dan terasa dingin seperti logam di bawah tumpukan daun kering. Dengan satu sentakan kuat, ia berhasil menyingkirkan gumpalan tanah terakhir hingga menampakkan sebuah kotak besi kecil yang sudah tertutup karat di seluruh

permukaannya. "Ketemu! Ini adalah harta karun yang selama ini disembunyikan Kakek dari Ayah," seru Anila dengan binar mata yang memantulkan sisa cahaya senja yang masih tersisa.

Namun, saat ia mencoba menarik kotak itu keluar dari sarangnya, ia menyadari bahwa kotak tersebut terikat oleh sebuah rantai tipis yang masuk jauh ke dalam pusat akar pohon.

Ada sebuah gembok tua yang tergantung di sana, memerlukan kunci yang bentuknya belum pernah mereka lihat sebelumnya dalam koleksi kunci rumah mereka. Anila terdiam sejenak, menyadari bahwa perjalanan ini baru saja dimulai dan rahasia Kakek jauh lebih dalam daripada sekadar kotak logam tua yang terpendam di bawah tanah.

Tiba-tiba, dari arah rumah, terdengar suara langkah kaki yang berat dan terburu-buru mendekat ke arah mereka berdua melalui semak-semak yang rimbun. Anila segera menyembunyikan kotak itu kembali dengan daun-daun kering, sementara jantungnya berdegup kencang karena ia tahu Ayah tidak boleh melihat apa yang baru saja mereka temukan. Mereka berdiri membeku saat sebuah bayangan besar muncul dari balik kegelapan, membawa sebuah rahasia lain yang mungkin akan mengubah sejarah keluarga mereka selamanya.

Jemari Anila gemetar saat ia menarik selembar kertas kusam dari tumpukan surat cinta yang beraroma debu dan kenangan. Di sana, coretan tinta biru yang mulai memudar membentuk sebuah peta harta karun sederhana, digambar dengan garis-garis tegas namun penuh kasih oleh tangan Kakek puluhan tahun silam. Tanda silang merah mencolok berada tepat di bawah sketsa pohon beringin tua yang akarnya masih mencengkeram bumi di ujung pematang sawah belakang rumah mereka.

Anila mengetuk-ngetukkan kuku ibu jarinya ke permukaan meja, sebuah kebiasaan yang selalu muncul setiap kali rasa ingin tahunya memuncak. Ia bergumam pelan dengan ritme yang cepat, "Logikanya, kalau Kakek repot-repot menggambar ini, pasti ada sesuatu yang lebih berharga daripada sekadar mainan plastik tua." Ia tidak pernah bisa menerima jawaban yang terlalu sederhana, selalu ada lapisan makna yang harus ia bedah sampai ke akar-akarnya.

Lihat selengkapnya