Anila dan Kotak Pos Waktu

Bilsyah Ifaq
Chapter #4

Surat Cinta yang Puitis

Cahaya lampu ruang tengah yang temaram menyinari tumpukan kertas kusam di atas meja kayu jati. Ayah mengetuk-ngetukkan jemarinya pada tepian meja, sebuah kebiasaan lama yang muncul setiap kali ia merasa gelisah atau terharu. Di tangannya tergenggam selembar surat dengan tulisan tangan kakek yang miring dan tajam, jauh dari kesan puitis yang kaku namun terasa sangat hidup.

"Aduh, lihat ini, Bu. Bapak dulu memanggil Ibu dengan sebutan 'Nyonya Sambal Terasi' hanya karena Nenek tidak sengaja menumpahkan ulekan di baju pengantin mereka," gumam Ayah sambil terkekeh pelan. Suaranya yang biasanya berat dan tegas kini melunak, membawa ritme bicara yang lebih santai seolah beban pekerjaan di kantor menguap begitu saja ke udara malam yang dingin.

Ibu mendekat, menyampirkan syal rajutnya sambil mengamati barisan kalimat jenaka yang ditulis kakek lima puluh tahun silam. Kakek tidak pernah menulis tentang rembulan yang indah atau bunga yang bermekaran, melainkan tentang betapa lucunya cara nenek mendengkur saat kelelahan. Keputusan kakek untuk merekam momen-momen konyol daripada pujian kosong menunjukkan bahwa cinta sejati justru tumbuh dalam tawa yang paling jujur.

Tatapan mata Ibu perlahan beralih dari kertas tua itu menuju wajah Ayah yang masih tersenyum lebar membaca baris demi baris surat tersebut. Ada kehangatan yang kembali menyala, sebuah koneksi yang sempat meredup di balik layar ponsel dan kesibukan harian yang tanpa henti. Mereka menyadari bahwa romantisme bukan tentang makan malam mewah, melainkan tentang keberanian untuk menertawakan ketidaksempurnaan bersama-sama.

Ayah kemudian menarik kursi untuk Ibu, sebuah gestur kecil yang sudah lama tidak ia lakukan tanpa alasan yang jelas. Ia memutuskan untuk menyimpan ponselnya di laci terdalam, sebuah langkah yang tidak biasa bagi seorang pria yang selalu terobsesi dengan notifikasi surel. Malam itu, mereka tidak lagi membicarakan cicilan rumah atau jadwal rapat, melainkan tentang bagaimana cara mereka bisa menulis cerita yang sama lucunya untuk anak-anak mereka nanti.

Namun, di tengah tawa mereka, Ayah mendadak terhenti saat jemarinya menyentuh sebuah amplop berwarna merah hati yang terselip di paling bawah tumpukan. Amplop itu belum sempat terbuka, dan di bagian sudutnya tertera tanggal yang seharusnya menjadi hari pernikahan kakek dan nenek yang batal karena sebuah rahasia besar. Dengan tangan yang sedikit bergetar, Ayah merobek segelnya dan menemukan sebuah pengakuan yang akan mengubah seluruh sejarah keluarga mereka selamanya.

Wajah Ayah memucat saat matanya menyapu barisan kalimat terakhir yang tertulis dengan tinta hitam yang mulai memudar tersebut. Ia menatap Ibu dengan pandangan yang sulit diartikan, sementara surat itu perlahan terlepas dari genggamannya dan jatuh ke lantai dengan suara yang nyaris tak terdengar. Rahasia yang tersimpan selama setengah abad itu kini terungkap, memaksa mereka untuk mempertanyakan kembali siapa sebenarnya sosok kakek yang selama ini mereka puja lewat surat-surat jenakanya.

Ayah menarik napas panjang, jemarinya yang kasar perlahan membuka lipatan kertas kusam yang mulai menguning di tepinya. Sambil menyesuaikan kacamata bacanya yang sedikit melorot, ia berdeham pelan seolah sedang bersiap untuk sebuah pertunjukan teater besar di ruang tamu yang biasanya sunyi itu.

Suaranya yang berat mulai mengalun, membacakan barisan kalimat puitis karya Kakek yang ditulis lima puluh tahun silam. Di antara kata-kata manis tentang rembulan, Kakek menyelipkan gurauan tentang betapa ia hampir pingsan karena mencium aroma terasi dari dapur Nenek saat mereka pertama kali berkencan.

Ibu yang duduk di seberang meja perlahan menundukkan kepala, menyembunyikan rona merah yang tiba-tiba menjalar di pipinya. Ia memilin ujung daster bunganya dengan gelisah, sebuah kebiasaan lama yang muncul kembali saat hatinya merasa tersentuh oleh kehangatan yang sudah lama tidak ia rasakan.

Lihat selengkapnya