Lampu sorot arena malam itu terasa membakar kulit, tetapi riuh rendah teriakan ratusan penonton jauh lebih membakar atmosfer. Bau keringat, darah, alkohol, dan asap rokok berbaur menjadi satu di udara basement yang pengap. Di sinilah, di bawah tanah area pergudangan tua Sunda Kelapa yang terisolasi dari hukum kota, semua kegilaan dilegalkan.
Di sudut merah ring bertirai besi bertajuk The Iron Cage itu, Jovan Aldrick berdiri dengan napas yang memburu teratur. Buku-buku jarinya yang dibalut handwrap hitam bertekstur kasar terasa berdenyut, menuntut hantaman yang lebih keras. Di medan laga bawah tanah ini, tidak ada yang peduli pada nama belakang keluarganya yang terhormat. Malam ini, dia hanya dikenal dengan satu julukan: sang Predator.
Di sudut seberang, Erik Mahameru—musuh bebuyutannya—sedang menyeringai kasar sambil meludah ke lantai ring yang bernoda. Erik adalah lambang kebrutalan murni; bertubuh masif, bertato tribal di sekujur leher, dan selalu bertarung dengan cara yang kotor.
“Heh, anak manja!” ejek Erik, suaranya parau memicu sorak penonton yang haus darah. “hanya sebatas ini kemampuanmu, eh?” menyeringai, meremehkan.
Jovan tidak membalas dengan kata-kata. Baginya, cacian Erik hanyalah kebisingan yang tidak penting. Pria berusia 25 tahun itu justru memiringkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, membunyikan urat lehernya dengan ekspresi rileks yang mengintimidasi. Tatapan mata blasteran Belanda-Indonesia milik Jovan mengunci lurus pada sang lawan. Di kepalanya, dentum bass lagu Teeth milik 5 Seconds of Summer seolah berputar, memompa adrenalin ke seluruh pembuluh darahnya.
Teng! Teng! Teng!
Ronde ketiga dimulai. Erik langsung menerjang maju seperti banteng liar. Sebuah pukulan hook kanan yang masif dilayangkan ke arah pelipis Jovan. Namun, dengan refleks seorang biker yang terbiasa membelah kecepatan jalanan, Jovan merunduk cepat. Angin dari pukulan Erik berdesing tipis di telinganya.
Jovan memanfaatkan celah itu. Kombinasi kiri, kanan, uppercut!