Raungan mesin dari belasan motor kustom bermesin besar membelah keheningan malam kota Jakarta. Malam itu, jalanan aspal dari arah Pondok Indah menuju kawasan Tangerang seolah menjadi milik satu kelompok. Di barisan paling depan, memimpin arak-arakan yang tampak seperti karnavalan berandalan jalanan, Jovan Aldrick duduk dengan angkuh di atas Harley Davidson Sportster Forty-Eight miliknya.
Knalpot kustomnya yang bising memuntahkan suara menggelegar layaknya monster yang kelaparan. Di belakangnya, anak-anak The Sovereigns mengekor dengan formasi rapi namun intimidatif. Ada Mahesa Dimas yang mengendarai motor tracker kekar, dan Yuga Pratama yang sesekali melakukan aksi wheelie tidak bertanggung jawab, memancing sorak-sorai anggota geng yang lain. Mereka sedang menuju arena balap liar di Jalur Sutra BSD untuk taruhan besar malam ini.
Jovan membiarkan angin malam menerpa wajahnya di balik kaca helm yang terbuka setengah. Seringai tipis menghiasi bibirnya. Ini adalah dunianya. Dunia di mana kecepatan, kebisingan, dan arogansi dihargai tinggi. Dia merasa bebas, merasa memegang kendali penuh atas hidupnya yang di rumah selalu ditekan oleh sang ayah.
Di saat yang sama, di salah satu halte bus yang temaram di pinggir jalan layang, Na Esha Arunika berdiri sambil mendekap erat tas ranselnya. Angin malam yang kotor berembus kencang, menerbangkan beberapa helai rambutnya saat rombongan motor besar itu lewat beriringan di depannya.
BRRRMMM! BRRMM!
Esha terpaksa menutup kedua telinganya dengan telapak tangan. Suara knalpot itu begitu memekakkan telinga, membuat dadanya ikut bergetar tidak nyaman. Dari balik lampu jalanan yang remang, mata Esha tertuju pada sosok pria yang memimpin rombongan. Pria berjaket kulit hitam dengan tato yang mengintip dari pergelangan tangannya. Pria itu tampak tertawa bersama teman di sebelahnya, mengabaikan fakta bahwa mereka baru saja mengganggu ketenangan malam ratusan orang di sepanjang jalan.