ANIMALS

Indah Leony Suwarno
Chapter #4

Rumah Jovan

Pukul tiga pagi lewat lima belas menit. Raungan mesin Harley-Davidson milik Jovan sengaja dimatikan beberapa meter sebelum gerbang besi menjulang di kawasan Bukit Golf Utama, Pondok Indah. Jovan membiarkan motornya meluncur dalam diam, memarkirkannya di garasi yang luas bersanding dengan jajaran mobil mewah, termasuk Porsche GT3 RS abu-abu miliknya yang berdebu karena jarang disentuh.

Jovan melangkah masuk ke dalam mansion bergaya modern minimalis itu. Rumah ini sangat besar, megah, dan bernilai ratusan miliar. Namun bagi Jovan, tempat ini tidak lebih dari sebuah peti mati yang megah. Dingin, sepi, dan menyesakkan.

Baru saja kakinya menginjak lantai marmer ruang tengah, lampu gantung kristal di atasnya tiba-tiba menyala terang. Jovan menghentikan langkah. Di ujung sofa kulit, seorang pria paruh baya dengan rambut yang mulai memutih duduk tegak dengan setelan kemeja yang masih rapi. Hendrik Aldrick.

Di atas meja kaca di depan Hendrik, tergeletak sebuah surat peringatan akademik resmi dengan kop surat Universitas Bina Nusantara.

"Bagus. Jam tiga pagi baru pulang," suara Hendrik memecah keheningan dengan nada dingin yang teramat tajam. "Kamu pikir rumah ini hotel?"

Jovan tidak menjawab. Dia hanya menghela napas pendek, berniat melewati ayahnya begitu saja menuju tangga.

"Jovan!" bentak Hendrik, suaranya menggelegar membuat atmosfer ruangan seketika menegang. "Lihat ini! Surat peringatan ketiga dari kampusmu. Kamu bolos kelas Bisnis Internasional lagi minggu ini. Mau jadi apa kamu, hah?!"

Jovan menghentikan langkahnya di anak tangga pertama. Tanpa berbalik, dia menjawab dengan suara datar. "Jovan nggak pernah minta masuk jurusan itu, Papa."

"Kurang ajar!" Hendrik berdiri, melangkah mendekat dengan tatapan mata yang berkilat murka. Sikap temperamentalnya mulai mengambil alih. "Papa bayar miliaran untuk kuliahmu di Binus Senayan supaya kamu becus megang Aldrick Propertindo! Tapi apa yang kamu lakukan? Malah ugal-ugalan sama geng motor sampahmu itu! Taruhan di jalanan! Bertarung seperti binatang di lubang kotor!"

Mendengar kata 'binatang', rahang Jovan mengeras. Pria berusia 25 tahun itu berbalik, menatap langsung mata ayahnya tanpa rasa takut. Ego sang Predator Ring yang biasanya membakar jalanan, kini berhadapan dengan ego penguasa bisnis yang mutlak.

Lihat selengkapnya