Bel istirahat berbunyi tiga menit lalu, murid-murid SMA Harapan Bangsa Cirebon berhamburan keluar kelas.
Tap … tap … tap ….
Langkah-langkah kaki menuruni tangga terdengar sangat berisik. Murid-murid kelas tiga berebutan menuruni tangga, dengan tujuan sama yaitu kantin. Letaknya tepat di belakang jajaran kelas murid kelas satu. Segerombolan murid laki-laki dorong-dorongan, mengoceh saling meledek.
Gue berjalan di belakang mereka, kami adalah murid kelas tiga. Berebutan menuruni tangga bersama dua orang teman lainnya: Tama dan Toto. Pada anak tangga terakhir, kami berjalan beriringan. Tinggi badan kami 170-an, karena atlit pencak silat perawakan kami ideal. Gue sengaja pakai topi agak menutupi wajah, menyembunyikan mata sembab karena kurang tidur semalam.
Toto kulitnya sama kayak gue, putih bersih. Mata sipitnya sangat menandakan asal-usulnya, potongan rambut belah samping. Tama, di sebelah gue dengan kulit lebih gelap. Potongan rambutnya tanpa belahan, disisir kebelakang menyembunyikan panjang rambut. Ia menubruk punggung ketika langkah kaki gue berhenti mendadak. “Males gue, rame banget tuh!” pekik gue, tangan kanan mengarah pada keramaian kantin.
“Wis, bae penuh. Kempong, ora iso diajak kompromi, co.” [1]
“Terobos bae, Can. Sing penting siteng.” [2]
Ajakan mereka gue tolak, membalik badan hendak menjauh dari kantin.
“Ican! Iki bocah malah ngeloyor. Hei, co!”
Gue tidak menjawab, dengan cuek melangkah menjauh dari mereka. Toto mengejar dan menarik tangan gue. Ketika berniat menepis lengan Toto, tiba-tiba terdorong murid lainnya yang berhamburan turun dari tangga. Keseimbangan tubuh jadi goyah, tanpa sengaja menabrak murid perempuan.
Brak!!!
Tubrukan dengan gadis itu tak dapat dihindari, kami terjatuh.
Secepatnya bangkit dan mengulurkan tangan, niatnya ingin membantu gadis itu berdiri. “Sorry, gue kedorong. Enggak sengaja ….” ucap gue, mengulurkan tangan.
Ekspektasi sering sekali bertentangan dengan realita seperti acara-acara channel youtube yang lagi happening.
“Jangan sentuh, gue bukan mahram lo!!!” hardik gadis itu ketus.
Mendengar ucapan gadis berjilbab, berkaca mata dengan wajah ovalnya, gue bagaikan main flying fox. Desiran darah terasa mengalir deras, jantung berdegup amat kencang. Biasanya gue yang dikejar-kejar cewek, baru kali ini ada cewek yang nolak gue.
Anjir …! Uluran tangan gue dicuekin gitu saja. Mengoceh dalam hati.
Murid-murid lain yang melihat tabrakan dan mendengar ucapan ketus gadis itu mendadak diam. Mereka menanti episode selanjutnya, sepertinya mereka mulai menebak-nebak nasib gue dalam otak masing-masing. Terlihat dari wajah-wajah mereka menantikan adegan seru seperti drama korea, semua mata tertuju pada kami si tokoh utama.
Saat gadis itu berusaha berdiri, tak sengaja tangannya membuat topi yang gue pakai lepas dari kepala. Kami saling berpandangan, dari balik kaca matanya terlihat bola matanya yang coklat, gue terpesona.
“Maaf, nggak sengaja!” tegas gadis itu sambil berdiri, mengambil topi lalu menyodorkannya.
Seketika membeku, tersihir wajah manis gadis itu, seolah berada di dunia lain. Tiba-tiba gadis itu menempelkan topi ke kepala gue sekenanya, lalu ia berjalan menjauhi kerumunan. Dia pergi sementara gue masih mematung, tidak berkedip menatap punggungnya yang semakin menjauh, dengan mulut sedikit menganga.
“Wooy … bubar! Udah habis pelemnya, sana jajan ke kantin!”
Tama membubarkan murid-murid yang masih mengharap akan ada episode seru lainnya.
“Wooy! Can, napa, ira?” [3]