Animo Ican (arti cinta)

R Hani Nur'aeni
Chapter #3

REPOT SATU RUMAH

Dengan penuh percaya diri menatap bayangan sendiri di depan cermin. Rambut hitam lurus dan tebal, mata belo alis tebal, bibir juga agak tebal. Semua serba tebal di muka gue termasuk cambang tebal yang menambah kegantengan cowok Sunda macam gue. Kulit putih bersih, tinggi 170cm dengan berat 70kg, tubuh ideal bikin cewek-cewek berteriak saat gue and sohiber melintasi mereka. 

17 tahun sudah berada di dunia ini, besok ditemani baba bikin ktp. Wuidih, rasanya gimana gitu, mulai berasa jadi lelaki yang sesungguhnya. Senyam-senyum sendiri depan kacanya si nenek bawel. Bingung pakai baju apa, pokoknya kudu keren abis. Foto ktp sekali doang seumur hidup, kalau sampai jelek bisa menderita seumur hidup.

Malam ini sudah tiga kali bawa kemeja ke kamar Ceceu, mumpung penghuninya sibuk masak mie instan di dapur. Sekarang keempat kalinya gue bawa, ngaca depan cermin, balik badan lalu tanya gadis kecil yang setia banget bolak-balik nemenin dari tadi.

“Za, keren nggak Kakang pake baju ini?”

Za melipat kedua tangannya lalu mengangguk-angguk, bangkit dari duduknya berdiri memutari gue, kayaknya nggak salah minta saran darinya.

“Aku nggak tau, Kakang dari tadi bajunya sama sih.”

Gue “…”

Zayna ngeloyor keluar kamar meninggalkan gue yang bengong menatap kepergiannya. Belum pulih aliran darah di otak, suara yang amat dikenal tiba-tiba bikin genderang telinga bergetar.

“Ngapain di kamar, gue?!”

“Siapa yang gijinin lo pake kaca, gue?!”

“Bayar sewanya dulu, kalau mau ngaca!”

Duuh … pemilik kamar sudah datang. Kenapa sih bikin mie-nya nggak sampai besok pagi aja, biar tenang numpang ngacanya. 

“Eh, ada Ceceu.”

“Nggak usah basa-basi!”

“Enggak basi kok, kan mie-nya baru lo masak barusan.”

Telunjuk kanan mengarah mangkok berisi mie kuah plus telur yang mengepul di tangannya. Perut menari-nari mencium aromanya, kepulan asap mie menggelitik hidung, menelan ludah membayangkan betapa nikmatnya mie itu.

“Ngapain liat-liat mie, gue?!” 

“Mau, ya?” 

“Bikin sendiri!”

Ceceu melangkah pergi meninggalkan kamar menuju ke meja makan. Layaknya tikus ditiupkan seruling, gue mengintil sampai meja makan. Mengikuti harumnya aroma mie di mangkok yang kini sudah ada di atas meja.

“Ceu, mau sih mie-nya.” 

“Makan berdua, boleh, ya?”

Sengaja memasang wajah amat memelas, biar dapat jatah mie.

“Dua kali suap aja!” 

“Bikin sendiri kalau masih pengen.”

Dengan sigap mengangguk, menerima sendok yang disodorkannya. Lahap makan mie sendokan pertama, kunyah sebentar lanjut sendok kedua. Tiba-tiba ….

“Kakang!!!”

“Mie gue kok tinggal separo?”

Dengan senyuman tanpa dosa menjawab, “Sumpah, gue makan dua sendok sesuai yang lo suruh.”

“Dua sendok?!” 

“Sendok semen maksud, lo???!!!”

Nenek bawel mendelik sewot, matanya menghunus tajam, seolah ia anggap gue sama kayak mie rebus yang siap dilahap. Mendingan kabur sebelum terjadi sesuatu, kaki sedang siap-siap ….

“Stop, jangan berusaha kabur!” 

Lihat selengkapnya