Animo Ican (arti cinta)

R Hani Nur'aeni
Chapter #4

ARTI 17TAHUN DAN KTP

Pagi-pagi sekali harus berangkat ke Dukcapil – tempat bikin ktp – kata baba kalau kesiangan bakal tambah ramai. Karena hari istimewa jadi merasa gimbrang [7] mata sudah melek sebelum azan subuh berkumandang. 

Setelah penyeleksian panjang tadi malam, yang tidak menghasilkan suatu keputusan. Akhirnya, baba bantu menentukan kemeja mana pemenangnya. Baju yang dipakai pilihan kedua, kemeja polos warna krem. Baju lengan pendek, simpel tapi keren dipakainya, kata baba. 

Sebelum sholat shubuh sudah mandi, agar lebih banyak waktu untuk menata rambut. Tatanan rambut sudah oke, pede lah gue. Supaya lebih lentur, komat-kamit olahraga mulut agar siap senyum lebar depan kamera untuk foto ktp.

Dalam perjalanan beberapa kali latihan senyum sembari ngaca-ngaca di ponsel, sesekali merapihkan rambut. Baba tersenyum melihat tingkah gue.

“Baju ‘kebesaran’ gak dipake, Kang?”

Hoodie, maksud baba?”

“Emang ada yang lainnya?”

Sama seperti kebiasaan Za dan Ceceu – pamer gigi yang menjadi ciri khas keluarga kami – menjawab pertanyaan baba. “Gaklah, kan mau foto KTP.” Malu-malu menjawabnya.

“Kang, menurut kamu umur 17 tahun apa artinya?”

“Usia dari remaja menuju dewasa, ba.”

“Emang udah siap Kakang jadi lelaki dewasa?”

Waah kesempatan emas nih, mendapatkan ijin bebas ngerokok dari baba. Kayaknya waktu yang tepat banget, melihat muka baba cerah ceria ditambah gue bakal punya ktp. Penuh semangat dan percaya diri menjawab pertanyaannya sambil mengajukan proposal.

“Siap dong!” jawab gue tegas, sesaat memperhatikan baba yang menatap spion bersiap hendak menyalip mobil di depan kami. Setelah baba berhasil menyalip dua mobil sekaligus, “Ba, hari ini Kakang bakal punya ktp. Ngghh … berarti bebas ngerokok dong?”

Baba tersenyum menatap gue sesaat, lalu fokus nyetir lagi. “Buat yang satu itu, Kakang harus tanya uma. Kalau dapet SIM dari uma, yaudah baba ngikut aja.”

Mengernyitkan kening, agak bingung dengan ucapannya. “Dapet SIM, dari uma?” Bertanya untuk memperjelas ucapannya.

“Iya, SIM dari uma. Yang barusan kamu ajukan ‘Surat Ijin Merokok’ masa iya nggak tahu,” ujar baba tertawa. Diikuti tawa gue yang baru paham apa kepanjangan SIM yang dimaksud oleh baba. 

“Kang, waktu dulu baba bikin ktp dianter engking, mirip kayak kita sekarang. Kata engking, usia 17 adalah masa transisi bagi seorang lelaki. Dimulainya pikulan beban kehidupan ditanggung oleh dirinya sendiri. Sebetulnya dalam ajaran islam, sejak memasuki usia akil baliqh [8] laki-laki sudah menjadi lelaki dewasa. Kamu paham maksud baba?”

Gue mengangguk, kayaknya bakal berat nih obrolan of the day. Baba lanjut bicara ….

“Baba minta Kakang selalu menjaga sholat dan ngajinya dengan baik. Keduanya bekal utama dalam menjalani kehidupan. Simpan baik-baik Allah dalam hati dan hembusan nafasmu. Insya Allah hidup Kakang akan berkah dan bahagia.”

Baba ngusap lembut kepala gue, sumpah hampir menitikan air mata. Obrolan singkat dengan baba makjleb [9] banget ke hati. Menatap raut wajahnya yang mulai menua, beruntung banget punya bokap kayak baba.

Lihat selengkapnya