Animo Ican (arti cinta)

R Hani Nur'aeni
Chapter #5

SUDAH ENEK

Hari ini jam 08.45 WIB menemani uma duduk manis di ruang guru, tepatnya meja ibu Mayang – wali kelas gue. Kemarin uma dapat undangan khusus. Biasalah gue termasuk salah satu murid istimewa, kesayangan para guru makanya baba dan uma sering sekali silaturahmi dengan guru-guru. 

Ibu Mayang berjalan ke arah kami, memberikan salam pada uma lalu menatap tajam pada remaja lelaki sebelah uma, yaitu gue. 

Membalas tatapan ibu Mayang dengan melemparkan senyum terbaik, sangat berharap hatinya agak sedikit melunak melihat manisnya senyuman gue.

“Saya minta maaf selalu mengganggu waktunya, kita sudah sama-sama tahu bagaimana istimewanya murid yang satu ini.” Ibu Mayang bicara pada uma, tapi matanya tertuju ke arah gue.

“Saya tidak tahu harus bagaimana lagi, hukuman yang diberikan tidak juga membuat Ican kapok. Datang ke sekolah seenaknya saja, masuk kelas semaunya. Tugas-tugas selalu telat dikumpulkan. Beberapa kali Ican meninggalkan jam pelajaran, guru menemukannya di kantin sebelum jam istirahat,” terang ibu Mayang pada uma. Kemudian ia menarik napas dalam, matanya kembali menatap tajam ke arah gue.

“Masalahnya Ican sekarang kelas tiga, kami para guru sudah tidak bisa mentolerir semua kelakuannya. Jujur saja bu, kami sudah enek dengan kelakuan Ican dan teman-temannya! Memangnya sekolah punya mereka, bertingkah semaunya tanpa mengacuhkan aturan di sekolah! Dari awal masuk sekolah selalu bikin masalah!”

Wajah uma berubah mendengar ucapan ibu Mayang, terlihat malu dan pasrah dengan kelakuan anak lelaki yang duduk disebelahnya. Sementara kuping ini cukup panas mendengarnya, tapi masih menghormatinya sebagai guru dan wali kelas gue, biar pun ibu Mayang kadang menyebalkan. Ya, meski begitu, ibu Mayang sering memberikan pembelaan di depan guru-guru lainnya.

“Saya sebagai ibunya mohon maaf atas segala kesalahan Ican. Kami pasrahkan semua pada sekolah dengan semua kesalahan yang dilakukan anak kami, Ican,” ucap uma dengan nada suara pasrah campur sedih. 

Hal itu bikin gue bingung dan merasa bersalah. Tapi ya tetap saja sebetulnya gue nggak merasa salah, mereka kan nggak tau alasannya. Lekas berdiri, bicara dengan santai.

“Maaf ibu Mayang, uma. Ican punya alasan yang kalian semua nggak tau. Silahkan berpendapat dengan pikiran kalian sendiri, Ican berani bertanggung jawab atas semua yang Ican lakukan.”

Menggeser sedikit menjauhi kursi yang tadi ditempati. “Uma dan baba sering bilang, nggak hanya nuntut hak, tapi laksanakan kewajiban juga. Emang sih, ibu Mayang benar. Tapi kan, nilai-nilai Ican nggak jelek, selalu sepuluh besar. Ican nggak pernah mencoreng nama sekolah, seingat Ican malah bikin bangga sekolah. Bulan lalu, kami tim pencak silat berprestasi. Alhamdulillah Ican juara satu.”

Gue raih tangan uma, mencium tangannya. Berganti mencium tangan ibu Mayang sambil mengucapkan kata-kata kenangan.

“Doain aja bu, Insya Allah sekolah ini secepatnya Ican beli. Biar pantes dibilang yang punya sekolah.” 

Senyuman kemenangan terpampang di wajah, dengan santai melangkan kaki pergi meninggalkan mereka semua yang terpukau mendengar ucapan pamungkas dari mulut gue.  

~~~ 


Kejadian Beberapa Minggu Sebelumnya

Gue mengangkat tangan saat jam pelajaran Matematika, saat itu ibu Mayang yang mengajar. 

“Iya, ada apa Ican?”

“Ijin ke belakang, bu.”

Lihat selengkapnya