Animo Ican (arti cinta)

R Hani Nur'aeni
Chapter #6

SAMPAI KAPAN ATUH, CAN

Perkataan ibu Mayang dua hari lalu sepertinya cukup membuat kepala uma berdenyut hingga hari ini. Terlihat dari wajahnya yang sejak tadi sore tidak cerah ceria seperti biasanya. “Uma, makan apa kita malam ini?” tanya gue padanya, ia sedang sibuk di dapur. 

Wajah ramahnya hilang saat ditanya menu makan malam, uma malah menghela napas panjang sebelum menjawab pertanyaan dan menatap gue dengan mengembus napasnya. 

“Uma nggak masak, baba lagi beli sate buat makan malam,” jawab uma datar, meninggalkan gue sendiri di dapur menuju kamarnya.

Apa yang mesti dilakukan agar membuat pikiran uma tenang, melupakan semua perkataan ibu Mayang. Memang sih tidak dapat dipungkiri, sejak TK sampai hari ini tidak pernah sekalipun membiarkan hari-hari baba dan uma duduk tenang, tanpa ada panggilan silaturahmi ke sekolah. 

Mengernyitkan dahi, bermain dengan isi kepala. Membenarkan diri sendiri bahwa itu semua bukan sepenuhnya salah gue, mereka saja sebagai guru yang terlalu banyak aturan untuk murid-muridnya.

Pelan-pelan mengintip dari bibir pintu kamar yang terbuka lebar, uma sedang mengoleskan minyak kayu putih di leher dan pelipisnya. Lalu ia menghirupnya, tapi tampaknya tidak mengurangi pening di kepala uma karena kedua tangannya sekarang memijat-mijat kepala. 

Apa uma marah? 

Atau uma malu karena ulah gue? 

Rasa bersalah mulai menggelayut di hati. Tiba-tiba terdengar suara baba,

 “Assalamu`alaikum. Sate-sate! Siapa mau sate?”

Lekas menyelinap menjauh dari kamar, menyambut baba yang tangannya menggembol dua kantung kresek putih.

“Wa`alaikumusalam ….”

Za, mau satenya ya, ba,” ucap Za yang datang bersama Ceceu menyambut baba. 

Dari tadi mereka berdua asyik di kamar Za, entah apa yang mereka lakukan. Pikiran tertuju pada uma sejak melihat raut wajahnya yang datar, saat menjawab pertanyaan tadi. Sate menjadi salah satu menu kesukaan keluarga kami, terutama gue. Tapi malam ini sulit sekali menelan potongan sate ayam yang biasanya terasa amat lezat agar masuk dengan mudah ke dalam perut.

“Kang, kamu sakit?” tanya baba, yang menyadari perubahan sikap gue yang kurang menikmati makan malam ini.

“Enggak, ba. Kakang sehat, cuman tenggorokan aja agak seret kayaknya panas dalam, nih.” 

Berbohong untuk menutupi ketidak nyamanan yang dirasakan. Usai makan malam, gue dan Ceceu mencuci gelas, piring, dan sendok bersama. Uma tidak membeda-bedakan kami untuk urusan pekerjaan rumah seperti ngepel, nyapu, cuci piring, dan lainnya. Meski gue cowok, kata uma tetap harus bisa mengerjakan pekerjaan rumah layaknya perempuan. 

“Baba aja dulu nggak malu bantuin Enin beresin rumah, ya kamu juga harus kayak gitu. Jadi lelaki sejati kayak baba.”

Nah kan, susah kalau pembandingnya baba. Uma paling bisa kasih kartu mati buat gue, nggak bisa nolak udah telak banget kena skakmat.  

“Ceu, menurut lo uma marah nggak ama gue?”

“Ya, ndak tau, ya. Kok tanya gue.”

“Kan tadi bisa lo liat raut wajah uma. Kayak gimana tuh, ke gue?”

“Sorry, nggak merhatiin. Tapi bener kata baba, kenapa kok tumben banget lo jurig [11] sate tadi kayak ogah-ogahan gitu nelen satenya. Kenapa, tuh?”

“Et dah, ini bocah. Ditanya malah tanya balik.”

Percakapan kami diakhiri dengan perang saling menciprat air ke muka, sampai selesai cuci piring. Berhenti karena kedatangan Za, ingin ikutan juga. Maka berakhirlah perang air antara Ceceu dan gue. Ceceu mengajak Za ke kamarnya, sedangkan gue menuju halaman belakang membawa segelas kopi.

Lihat selengkapnya