Animo Ican (arti cinta)

R Hani Nur'aeni
Chapter #7

KECUPAN UNTUK UMA

Wee … woo … wee … woo ….

Bunyi alarm mengganggu tidur! Rusak sudah mimpi gue. Tanpa membuka mata, meraba-raba sekitar mencari keberadaan pemilik suara yang masih menimbulkan bunyi teramat kencang. 

Brak!!!

Jatuh kan jadinya, terpaksa deh ini mata kudu melotot. Semoga baik-baik saja ponsel gue yang terjun bebas dari atas sofa bed. Setengah sadar memastikan keadaan benda persegi panjang itu sehat wal afiat, sambil mengumpulkan nyawa. Merem-melek berkali-kali sebelum akhirnya bisa benar-benar memaksa kedua mata ini terbuka lebar. 

Jujur ya, mata kayak dilem susah banget meleknya. Berhubung terlanjur janji pada diri sendiri, menebus kesedihan dan rasa malu uma gara-gara omongan ibu Mayang. Kenapa juga wali kelas gue harus comel, bilang-bilang segala kelakuan murid istimewanya ke uma. Kan jadi bikin hatinya sedih, terus jadinya gue merasa bersalah.

Phuff …. 

Menjadi lelaki dewasa itu ternyata nggak enak, sedangkan umur terus bertambah bukan berkurang. Enaknya jadi Za, nggak perlu pusing mikir kehidupan. Membayangkan kembali enaknya saat gue seumuran Za, cukup merengek dapat apa yang dimau. 

Mau bagaimana lagi, waktu terus berputar, gue harus berubah. Harus bisa membuat uma bahagia, kan udah punya ktp. Keplak kepala, nyengir sendiri. Ini otak bukan tambah beres bangun tidur, malah tambah ruwet.   

Setelah benar-benar yakin kedua mata terbuka lebar, memastikan kedua kaki bisa berjalan dengan baik, bangkit dari duduk keluar kamar. Daripada tambah ngaco pikiran gue, kayaknya harus dibanjur air wudhu biar lancar. Dulu kata ustad di pondok, kalau ngantuk pas mau tahajud cara jitu usir kantuk ya mandi, biar segar. 

Melihat rak handuk, membayangkan dinginnya air menyentuh kulit, cukup bikin mata melotot. Dalam sekejap hilang kantuknya, nggak perlu mandi. Gila aja kalau nekat mandi, jam 03.15 WIB kebayang bakal disko kedinganan. Bisa beku ini otak bukannya segar, mana tadi malam habis hujan.

Alhamdulillah, mengusapkan kedua tangan ke wajah. Nyaman rasanya mengadukan semuanya pada pemilik langit dan bumi. Masih bersimpuh di sajadah, tangan meraih ponsel yang tergeletak tak jauh dari tempat duduk. Sembari nunggu azan subuh, kotak-katik ponsel mencari bacaan dzikir yang biasa dibaca waktu mondok, di SMP. 

Sekedar informasi nih, gue adalah alumni salah satu pesantren di Jawa Barat. Uma dan baba sebetulnya minta gue lanjut mondok lagi, tapi gue tolak. Bosen, cukup lah tiga tahun selama SMP di pesantren, bikin gue jadi santri kreatif. 

Jadi tahu berbagai gaya tidur: tidur di kelas, tidur di masjid pas ngaji, tidur berdiri, dan berbagai gaya tidur lainnya ala-ala santri di pondok pesantren saat mukim waktu SMP. Senyam-senyum ingat kejadian di pondok pas sholat subuh, di rakaat kedua beres imam baca fatihah, 

Bugghh …!

Tiba-tiba ada suara benda jatuh membentur lantai. Andra teman kamar gue ternyata sholat sambil tidur, dia tumbang di rakaat kedua. 

Tanpa sadar ingatan diajak bernostalgia keseruan saat mondok. Kedua mata menatap langit kamar, ingat waktu kepala dibotak – ngusap kepala – gegara tertangkap keluyuran di luar jam malam santri. Malam itu, cuma mau numpang nonton bola di warung Abah. Memang sih, acara bola baru mulai jam 2 pagi di tv. 

Rokok pertama gue sama Andra di kelas tujuh, lengkungan bibir membuat pipi sedikit terangkat ke atas mengingat peristiwa itu. Teman-teman rebutan kamar mandi di kamar, sementara kami berdua, melipir kabur ke kamar mandi samping kelas. 

Alasannya mau mandi, kenyataannya kepulan asap bergulung di kamar mandi. Baru berhenti ketika terdengar suara berat dan seraknya ustad Ilham dari luar kamar mandi ditambah gedoran pintu. Ketawa sendiri mengingat kejadiannya, sudah dipastikan gue dan Andra langsung di gelandang ke kantor wali santri waktu itu.

“Ah, apa kabarnya si Andra?” 

Lihat selengkapnya