Gara-gara dua hari lalu melihatnya di depan perpustakaan, jadi ingat lagi kejadian tempo hari. Dia berbeda dari cewek lainnya, entah kenapa hati berkata demikian. Berbaring di sofa bed sembari bolak-balik badan, tetap tidak bisa hilang bayangannya, menetap di otak. Padahal waktu sibuk ngurus ktp dan sim bisa lupa, kenapa sekarang datang lagi, sih.
“Siapa namanya ya?”
“Apa begini rasanya jatuh cinta?”
Mengoceh sendiri, sembari menggaruk kepala. Tiap melihat cewek itu, dag dig dug jantung seperti bermain drum. Darah dalam tubuh terasa lebih deras mengalir bagaikan air terjun.
Oksigen seperti menghilang, karena napas terasa berat. Ingin menyapanya, tapi nggak berani. Kayak ada semen nempel di sepatu, susah gerak. Hanya berani memandanginya dari jauh.
‘Jangan sentuh! Gue bukan mahram lo!’
Kata-kata itu susah hilang dari kepala, seperti dilem, melekat kuat dalam ingatan.
Jilbab hitam, kaca mata, memicingkan mata mengingat-ingat wajahnya. Kayak pernah ketemu, tapi di mana ya? Mata bulat, alisnya panjang, tebal pula. Cantik banget sih, terlihat deretan giginya yang rapi saat ia tersenyum di depan perpustakaan. Sayang senyuman itu bukan buat gue, tapi untuk teman-teman yang ada bersamanya waktu itu.
“Akkhh!!!”
mengacak-acak rambut, gemes sendiri. Dibikin kayak orang bego! Nggak tahu harus ngapain, hanya bisa berguling-guling tidak jelas seperti sekarang.
“Wooy, ngapain? Lagi puyeng kayaknya.”
Suara itu sangat bersahabat dikuping, refleks mencari asal suara memastikan betul nenek bawel yang ngoceh apa bukan. Bola mata menangkap sosok itu berdiri santai di depan pintu, ia bersandar di pintu sembari memegang gelas berisi susu.
Tadinya mau berguling-guling lagi, tapi nggak jadi lah. Sapa tau Ceceu bisa nolongin, memberikan solusi terbaik yang dibutuhkan.
“Ceu, sini!”
“Ogah, paling ada maunya.”
Tau aja lagi ini nenek bawel, memiringkan badan mengubah posisi agar wajah terlihat jelas olehnya. Bibir bergerak memasang senyuman persahabatan untuknya.
“Sini dulu lah ….” ucap gue, melambaikan tangan menyuruhnya masuk kamar. Ia masih tidak mau bergerak dari posisinya, menyempurnakan rayuan memanggilnya dengan suara merdu.
“Ceceu, sini dong.”
“Baeklah. Tapi inget, lo masih utang satu ama gue, ya.”
“Eh busyet masih inget aja lo. Tega bener main itungan ama kakak sendiri.”
Ceceu menempelkan pantatnya di sofa bed, diteguknya susu hingga tetesan terakhir. Lekas bangkit, duduk di sampingnya.
“Ceu, besok dikasih unjuk cewek yang waktu itu tabrakan ama gue, ya. Katanya kelas akselerasi juga kayak, lo. Please cari tau sapa namanya,” pinta gue, amat memelas agar dikabulkan.
Ia mengerutkan kening, kedua tangannya memegang gelas kosong. Sepertinya ia sedang mencerna ucapan gue. Apa karena dia kepinteran jadi agak sulit paham omongan sederhana tadi ya. Tanpa sadar ikut mengerutkan kening sama seperti yang dilakukannya.