Animo Ican (arti cinta)

R Hani Nur'aeni
Chapter #9

MAKAN MALAM PENUH CINTA

Hari minggu, biasanya molor lagi kalau nggak ada latihan silat. But oh but, tudey harus berjuang bikin mata tetep melek, bantuin uma biar dibilang rajin. Pertama-tama urusan kamar dulu lah. 

Nyapu kamar, terus dipel. Dalam hitungan menit bisa dilihat keajaiban di kamar gue, mendadak jadi bersih dan rapi. Lumayan takjub, melihat kamar yang biasanya abnormal menjadi bersih dan rapi seperti sekarang. 

He … he … he …. 

Lanjut tahap berikutnya area luar kamar, terutama yang ada uma-nya. Harus dipepet terus hari ini, biar uma berbaik hati melihat anaknya yang rajin. Celingukan mencari keberadaannya. Di dapur nggak ada, ruang tv nggak ada, kamar Za juga nggak ada. 

“Uma!!!”

Tergopoh baba muncul dari halaman belakang bawa-bawa pakan ikan, melototin gue.

“Berisik! Ada apa sih? uma di depan, lagi belanja sayur.”

Lekas pamer gigi biar nggak dimarahin, ternyata cukup ampuh bikin baba balik ke alamnya – halaman belakang tempat sohib-sohibnya pada sibuk berenang. 

By the way, gue bingung sama ikan. Mereka dari pagi sampai malam berendem terus di air tapi kok masih bau amis, kenapa ya? Apa airnya perlu gue kasih sabun kali ya, tapi ntar gue kena semprot baba. Ya sudahlah nggak usah dipikirkan, mending cari uma saja ke depan. 

Dengan riang, bersenandung berjalan keluar rumah. Uma sedang memperhatikan mang Jono si tukang sayur, sibuk ngitung belanjaan pakai kalkulator. Sayur dan teman-temannya bertumpuk dalam wadah khusus, sejenis baskom gitulah. Dengan cekatan mang Jono memasukan belanjaan ke kantung plastik, sembari mulutnya komat-kamit menghitung. 

“Uma, masak apa hari ini?”

Kedatangan gue disambut tatapan mata uma dari atas hingga bawah, memastikan ini betul anaknya apa bukan. Sepertinya takjub, jam segini anak lelakinya bisa ada disampingnya. Biasanya kan masih terkapar meluk guling, berkelana di alam mimpi. Baru bangun pas ada bau-bau harum masakan uma mengelus-elus hidung. 

“Tumben, Kang.”

Menaik turunkan alis, “Iya dong, kan Kakang udah punya ktp.” 

Banyolan gue bikin uma ketawa, diikuti mang Jono menyodorkan kantung plastik sembari memberitahu total belajaan yang harus dibayar. Dengan sigap menyambar kantung plastik dari tangan mang Jono. Selesai membayar, kami jalan beriringan masuk ke dalam rumah.

“Simpen di meja dapur aja, Kang. Nanti uma yang beresin ke kulkas.”

“Siap, uma.”

Beres menyimpan belanjaan, menghampiri baba yang lagi asyik bersihkan filter air di kolam ikan. “Napa lagi filternya, ba?”

Baba menoleh, “Biasa, macet lagi. Kayaknya harus dibersihin.”

Tanpa diminta langsung bergabung dengan baba, gotong royong bersihkan filter dan kolam ikan. Pokoknya hari ini misi gue membuat uma dan baba senang, biar nanti permintaan akan dikabulkan mereka.

Saking asyiknya bantuin baba, nggak kerasa sudah sore. Wangi pisang goreng, mulai nakal colek-colek hidung. Tiba di dapur aromanya semakin menggoda, ketika tangan hendak mencomot pisang goreng, ditepuk uma.

“Mandi dulu sana!”

Terpaksa telan ludah, pamitan pada pisang goreng yang dadah-dadah melihat kepergian gue menjauh dari dapur. Buru-buru mandi, karena ingin menikmati pisang goreng kriuknya uma.

Sore-sore paling enak makan gorengan sambil nonton tv bareng-bareng kayak sekarang. Uma masih menggoreng pisang di dapur. Baba, mengepulkan asap di halaman belakang sembari memandang kolam ikan yang sudah bersih. Wajahnya mengekspresikan kepuasan, kondisi kolamnya ikan sesuai harapannya. 

Gue dan Za asyik menjejal pisang goreng ke mulut, Ceceu sibuk mengipasi mukanya yang ditemplok masker biar cepat kering.

“Kaang, piaang oreng angan diabiisin!”

Lihat selengkapnya