Satu minggu sejak makan malam itu, gue tambah pusing. Aliran darah ke otak semakin tidak bisa diajak kompromi, tersumbat dengan sukses. Bukannya hilang, wajah Chay makin sering mampir, bermain-main di kepala.
Kenapa hidup jadi amburadul kayak gini, gara-gara jatuh cinta? Ditambah apa yang dikatakan uma, membuat tidur tambah nggak pules saja.
‘Pilihannya cuma dua, sekolah atau nikah!’
Di rumah kami, ada dua pasal uma yang berlaku. Tidak bisa ditentang kalau uma sudah mengeluarkan pasalnya seperti malam itu.
Pasal 1, uma tidak pernah salah.
Pasal 2, kalau uma salah lihat pasal 1.
Tega banget uma pada anak lelaki satu-satunya, memangnya uma dan baba dulu nggak pacaran. Nggak mungkin mereka langsung nikah, kan nggak mungkin banget. Mereka juga pernah sekolah, pastinya merasakan yang namanya jatuh cinta.
Perasaan ini baru pertama kalinya datang menggerayangi hati, kenapa juga harus datang sekarang disaat harus fokus ujian. Mana minggu depan ada try out …
Aarrggghhh!!!
Mengacak-ngacak rambut, “Sial, sial banget sih idup gue!!!”
Meninju-ninju guling karena kesal, bingung nggak tahu harus gimana. Tiba-tiba nongol mukanya Za, serius banget memperhatikan muka gue. Apa dari tadi ini bocah cilik diam depan pintu kamar gue?
“Za?”
Za mendekat, “Kakang lagi apa?” tanyanya, papan scrabble berada di tangannya. Kemudian Za duduk di dekat gue. Dengan sengaja mepet-mepet sembari memasang muka imutnya, memamerkan deretan gigi putihnya yang rapi. Andai gue bisa jadi Za, enak kayaknya. Nggak puyeng kayak sekarang.
“Kang, main yuk,” ajak Za, menyodorkan scrabble.
Sebenarnya malas, tapi siapa tahu bisa membantu melancarkan aliran darah ke otak. “Yuk,” jawab gue, menerima ajakan Za.
Nggak sampai lima menit, Za minta berhenti main. Mukanya ditekuk, mulutnya manyun, kelihatannya kesal sekali.
“Kakang!!!”
Bola mata mengikuti telunjuk Za yang mengarah ke papan scrabble, lalu matanya melotot menatap gue.
Chay
I
Love
You
Ya ampun kata-kata yang tersusun tanpa sadar mencurahkan isi hati. Aduh, makin nggak beres ini otak sangat lost control. Za berdiri, lalu lari ke luar kamar. Beberapa detik kemudian, bayangan dua cewek sudah berdiri di bibir pintu.
Mereka sepertinya sangat prihatin melihat keadaan gue, bengong memandangi papan scrabble. Za mengambil scrabble-nya lalu pergi meninggalkan gue dan Ceceu.
“Kang ….”
Ceceu ikut duduk di lantai, matanya meneliti setiap bagian wajah gue.
“Lo, beneran jatuh cinta ama Chay?”
Menjawab pertanyaannya dengan anggukan lesu, curiga adik gue ini lagi perhatian apa cuma mau ngerjain doang.
“Mau gue bantuin?”
Mendengar perkataannya, mendung di wajah berangsur hilang. Satu anggukan penuh semangat menjawab pertanyaannya.
“Kalau lo mau gue bantuin, nggak gratis ya. Harus ada imbalannya.”
“Tega banget lo ama kakak sendiri.”
Ceceu bangkit dari duduk, “Terserah, mau gue bantuin apa nggak? Gue cuma ngasih satu kali penawaran doang, ya,” ucapnya, kemudian ia bersiap melangkah meninggalkan kamar.
Dari pada puyeng sendiri, mendingan berbagi puyeng bareng Ceceu. Lekas menahan kakinya, “Ceu, Iya deh. Gue setuju. Imbalannya apa, lo minta duit ya?”