Kayaknya benar apa kata Ceceu dan sohiber, fokus ujian dulu. Setelah itu melanjutkan perjuangan untuk mendapatkan Chay. Sumpah otak betulan mampet, oksigen dalam darah ke otak kayaknya sangat minim, jadinya kepala sering nyut-nyutan gitu.
Baru sekali ini merasakannya, apa memang yang namanya jatuh cinta kayak gini ya? Masa iya sih? Kok, Tama jadi bersemangat sekolah karena jatuh cinta, terus dia jadi rajin ke musholla. Meski alasannya karena melewati kelas gebetannya, ya setidaknya sohib yang satu itu positif lah dengan jatuh cintanya.
Kayaknya harus merubah strategi perang, agar tidak jadi penderitaan buat hidup gue. Harus ada yang dikorbankan dan harus ada yang dijadikan prioritas, sepertinya sementara ini hati harus rela sedikit bersabar menyimpan rasa cinta untuk Chay sampai ujian selesai.
Bismillah ….
Memejamkan kedua mata, berusaha mengajak hati untuk berdamai sesaat, agar satu bulan ke depan bisa fokus dengan ujian sekolah.
“Gue bisa!!!”
“Pasti bisa!!!”
Menarik napas panjang dan amat dalam, sehingga bahu terangkat. Untuk beberapa saat menikmatinya, kemudian perlahan membuka kedua mata. Menggaruk-garuk kepala, mengembuskan napas. Meski sulit, berusaha menarik bibir mengembangkan senyuman terbaik untuk diri sendiri. Menyemangati hati, agar sanggup melewati perjuangan ini.
Enggak gampang ngejalaninnya, tapi gue harus berusaha. Ini demi masa depan, salah satu usaha untuk meyakinkan uma bahwa gue bisa belajar bertanggung jawab. Belajar menjadi lelaki dewasa, tidak hanya menuntut hak tapi harus melaksanakan kewajiban juga.
Untungnya les intensif hasil paksaan uma sudah berjalan dari bulan lalu, lumayan membantu agar bisa fokus belajar. Sibuk belajar bersama sohiber tiap hari, membahas pelajaran untuk ujian cukup mengalihkan otak dari bayangan Chay.
Meskipun cantiknya wajah Chay sesekali mampir, tapi nggak bikin kepala nyut-nyutan lagi. Malah seolah mendapat energi tambahan, seperti suplemen gitu deh buat gue. Di sekolah beberapa kali bertemu dengannya bareng Ceceu, hati sudah mulai tenang, nggak main flying fox lagi.
Entah kenapa semangat belajar untuk ujian, sangat ingin memberikan hadiah kelulusan terbaik pada uma dan Chay. Harus bisa lulus ujian dengan nilai bagus, biar uma senang, terus memberikan ijin pacaran. Gue mau nembak Chay, bakal pede lah kalau hasil ujian nilainya memuaskan, secara ia anak akselerasi.
Gue benar-benar serius menyiapkan diri menghadapi ujian. Malam minggu besok giliran belajar di rumah Bian, minggu depannya rumah gue. Lanjut rumah Toto, lalu Tama, terus bergantian sampai selesai ujian. Uma dan baba sudah memberikan ijin menginap, jadinya bakal sibuk belajar bareng sohiber.
Sebelum memejamkan mata, mengangkat kedua tangan, “Ya Allah, mudahkanlah hamba-Mu ini mewujudkan impian. Aamiin ….” Mengusap wajah dengan kedua tangan, diiringi murotal mengantarkan jiwa menuju alam mimpi.
~~~