Brak ….
Melempar tas ke lantai dan merebahkan tubuh di sofa bed, akhirnya selesai juga. Hari ini terakhir ujian, satu perjuangan telah usai, saatnya perjuangan selanjutnya. Tergambar dengan jelas di langit kamar, alisnya yang tebal; mata bulatnya; pipi chubby-nya; satu lengkungan senyum terukir di wajah.
Meraba-raba bawah bantal mencari jimat keberuntungan, akhirnya ketemu. Dengan cepat menarik buku keberuntungan yang menjadi penyemangat belajar dan selalu menemani selama ujian.
“Trim`s ibu Mayang.”
Menempelkan tangan kanan ke mulut, melemparkan sebuah kecupan kecil untuk ibu Mayang. Guru tercinta yang sangat mengerti keadaan hati gue.
Mendekap buku Chay, menutup mata membayangkan wajahnya. Memamerkan deretan gigi, menggoyang-goyangkan badan mengekspresikan perasaan di hati.
“Chay, i`m coming!!!”
Spontan berteriak, kaget sendiri, untung lekas sadar. Segera bangkit dari rebahan, celingak-celinguk kuatir ada yang dengar. Untuk beberapa saat tak ada reaksi dari sekitar, kayaknya aman. Namun, belum juga usai mengusap dada,
“Kang! Ngapain lo teriak-teriak?!”
Tetiba wajah yang tidak asing ada di depan mata, untung gue nggak ada riwayat sakit jantung.
“Ketok pintu, kek! Salamualaikum, kek! Bikin gue jantungan aja, lo!”
Sewot dengan ocehan gue, Ceceu nggak mau kalah.
“Lo yang berisik! Siang bolong ganggu orang istirahat!”
Sorot mata Ceceu menatap tajam ke arah buku yang ada dalam dekapan. Seolah sedang mengintai, bersiap merebut. “Itu bukunya, Chay, kan? Kok bisa ada di lo, sih?! Lo colong ya?!”
Otomatis mulut maju beberapa centi, memasang mata sendu. Ternyata sukses membuat nenek bawel merasa bersalah, puas melihatnya ekspresinya sambil menahan tawa dalam hati.
“Enak aja! Dosa tau kalau nyolong kata uma.”
“Maap, keceplosan. Abis lo, sering aneh-aneh sih!”
Ceceu duduk disebelah gue. Senyam-senyum mencari cara agar dimaafkan.
“Kang ….”
Pura-pura cuek memegangi buku Chay, sesekali mencuri pandang ke arah Ceceu.
“Kang, maapin gue ya.”
“Boleh, tapi ada syaratnya.”
“Gak jadi minta map kalau gitu!”