CHAYRA
Helai demi helai buku novel terlewati, kembali terngiang ucapan Ceceu dan Dina.
“Kita pengen liat Chay yang ceria kayak dulu lagi. Chay yang centil, bawel, suka becanda.”
Entah kapan terkahir kalinya gue tertawa lepas, ceria seperti Chay yang dulu. Sejak kepergian bunda dan mbak Naya semua sangat berbeda, rasa bersalah dan kebencian pada ayah tidak pernah bisa hilang meski sejak tragedi itu ayah menghentikan hobi laknatnya.
Bangkit dari ranjang, berjalan ke arah meja lalu menarik laci, mengambil sebuah figura biru muda. Titik bening mengalir di pelupuk mata memandangi foto bunda bersama gue dan mbak Naya, foto terakhir ketika bunda ulang tahun.
Duduk di tepi ranjang, membawa ingatan menembus waktu. Bunda histeris saat ayah mengatakan mbak Naya diculik.
“Naya, diculik?!”
Bunda langsung pingsan, dan selama dua hari dilewati dengan kecemasan. Ia selalu bertanya bagaimana tentang mbak Naya diiringi tangis. Mas Wahid, mas Agung dan mas Bima ikut mencari keberadaan mbak Naya, segala usaha dikerahkan untuk menemukannya.
Kucuran air mata semakin deras memandangi foto bunda dengan gaun biru langit, hijab yang senada dengan bajunya, hadiah dari ayah. Gue dan mbak Naya memakai kaos biru muda dengan tulisan ‘We Love Bunda’ kaos yang kami buat khusus untuk merayakan ulang tahun bunda ke-48.
Hari ketiga ayah berhasil menemukan mbak Naya, tapi kondisinya saat itu sangat kritis. Kami semua mengantarkannya ke rumah sakit, wajah mbak Naya sangat pucat, tubuhnya tak bergerak ketika ayah menggendongnya masuk ruang ICU. Dalam tubuh mbak Naya terdeteksi narkoba jenis heroin, ia diculik dan disuntik dengan dosis tinggi. Menghela napas, terbayang kembali lorong rumah sakit. Bunda menjerit histeris memanggil-manggil mbak Naya, saat kami mendapat kabar kematiannya. Ia meninggal karena over dosis.
Sejak mbak Naya meninggal, bunda tidak mau makan hingga jatuh sakit. Terpaksa dirawat karena dehidrasi, tidak ada makanan yang masuk ke dalam tubuhnya. Badannya kurus, setelah satu bulan dirawat, bunda pergi meninggalkan kami semua.
Ayah adalah pengusaha, hobi judinya membuat ia memiliki banyak musuh. Hal itu membahayakan keselamatan keluarga kami, terbukti dengan kematian mbak Naya dan bunda.
Gembong narkotik yang merasa ditipu ayah di meja judi, menculik mbak Naya saat menjemput gue di rumah Meta. Malam itu, mbak Naya menggunakan jaket biru muda kesayangannya. Gue memohon diijinkan pulang sebentar lagi, lalu mbak Nay menunggu di luar. Tiba-tiba terdengar teriakan,
“Akkhhh!!!”
“Tolong!!!”
Suara itu membuat gue dan teman-teman lainnya berhambur keluar. Namun, tak ada siapa-siapa di halaman rumah Meta, hening sekali. Tiba-tiba badan bergetar, pandangan menyapu setiap sudut mencari seseorang, keringat dingin mulai mengucur. Berteriak mencari keberadaan mbak Naya, yang menghilang begitu saja.
“Mbak Nay, lo di mana?!”
“Mbak!!!”
Badan seolah tak bertulang, saat Ceceu menemukan sebelah sepatu milik mbak Naya didekat mobil kami.
Mendekap erat pigura foto biru muda, tiada henti air mata mengalir melewati pipi. Meski dua tahun sudah berlalu tapi rasa sakit itu masih sangat terasa di hati ini. Selalu mengutuk diri sendiri, menyalahkan semuanya karena keegoisan gue.
Seandainya malam itu nurut apa kata bunda, nggak usah pergi ke pesta ulang tahun Meta. Seandainya gue langsung pulang waktu mbak Naya jemput, tentunya bunda dan mbak Naya masih ada sekarang.
Tok … tok ... tok ….