CHAYRA
Bergegas keluar kamar menuju ruang makan, sarapan sudah tesedia di meja seperti biasanya. Pagi ini mas Bima membuat nasi goreng teri pedas, lumayan menggugah selera. Ayah baru saja duduk lalu menyiduk nasi goreng ke piringnya. Mas Agung mulutnya penuh, masih juga menjejalkan kerupuk ke dalam mulutnya.
Mas Agung dan mas Bima menatap dari ujung kepala hingga kaki, tak percaya dengan keberadaan gue bersama mereka pagi ini.
“Nggak salah nih?”
“Semalam kamu mimpi apa, Chay?”
Dengan ceria menjawab pertanyaan mereka sambil menyinduk nasi goreng.
“Kenapa, emang nggak boleh Chay sarapan di meja makan?”
Sejak kepergian bunda dan mbak Naya, jarang sekali sarapan bersama mereka. Gue nggak pernah makan bareng ayah, malas. Rasa benci membuat gue selalu menghindar dari ayah.
“Sudah, ayo makan. Chay mau diantar ayah atau mas Agung ke sekolah?”
Sepertinya ayah tidak menyia-nyiakan kesempatan agar bisa berbaikan dengan gue.
“Ayah aja, sekalian ke kantor.”
Mata ayah sedikit berkabut di balik kaca matanya, senyumnya menggambarkan haru dan gembira.
Suasana hati sedang bahagia, memang betul kata Ceceu dan Dina sudah waktunya membuka diri. Meninggalkan masa lalu yang menyedihkan, menyambut masa depan yang membahagiakan. Ingin memaafkan diri sendiri, dan berbaikan dengan ayah.
Gue duduk di kursi depan sebelah ayah, sengaja biar kami bisa ngobrol. Ayah seperti tak percaya dengan apa yang terjadi hari ini.
“Chay, mau memaafkan ayah?”
Parau diucapkannya, dengan mata sendu menatap gue.
“Maapin Chay, ayah.” Sembari memeluknya, bulir bening menetes di ujung mata. Ayah membalas pelukan dan mengusap lembut kepala. Senyum bahagianya menutupi kerutan di wajah ayah, mulai bertambah banyak dan tampak jelas.
“Ma makasih sayang. Chay… Chay adalah harta ayah yang paling berharga.”
Ucapan ayah terbata, bulir-bulir bening turun dari ujung matanya. Lekas mengusapnya, memberikan kecupan kecil di pipinya. Kemudian memulai perjalanan kami, ayah tampak bahagia.
Kami ngobrol tentang sekolah dan kakak-kakak gue. Saking asyiknya, tak terasa mobil sudah di depan gerbang sekolah.
“Chay pamit, ayah.”