Ujian Nasional dan ujian praktek beres semuanya, anak-anak kelas tiga sudah bebas. Tidak ada jam pelajaran, tinggal menunggu hasil ujian. Di kelas hanya tersisa separuh murid, yang lainnya bertebaran entah kemana. Tama dan Toto asyik mengganggu cewek-cewek dari kelas sebelah yang bertamu, Bian entah kemana. Dari pada bengong di kelas mending rebahan, gue beranjak menuju musholla.
Tepat ketika kaki mendarat di tangga terakhir, Bian berjalan dengan cepat mendekat. Wajahnya ceria, mirip anak kecil baru dapat es krim, bikin penasaran.
“Dari mana? Happy banget muka lo?!”
“Iya dong! Tebak gue dari mana, apa yang bikin muka gue cerah ceria gini?!”
Menggerakan bola mata ke atas beberapa saat, kira-kira apa yang bikin Bian gembira.
“Lo menang judi!”
Bian melotot, sewot, “Enak aja!” Sesaat kemudian mimik mukanya kembali seperti semula, dengan penuh semangat mulai bercerita. “Tadi gue ketemu Ceceu. Janjian mau pulang bareng, dong!”
Gantian sekarang mata gue yang melotot, enak saja playboy bule mau antar pulang adik gue.
“Kok bisa Ceceu mau dianter pulang lo, playboy bule?!”
Bian menggerak-gerakkan kerah kemejanya, memasang wajah kemenangan.
“Gue mau jujur, tapi bacot lo dijaga ya. Of the record!”
“Mhhhmm ….”
Satu deheman cukup membuat Bian melanjutkan ocehannya.
“Ceceu itu cewek yang susah ditaklukin. Berkat Chay akhirnya bisa juga sedikit melunakan hatinya.” Playboy bule menampakan wajah bahagia.
“Maksud, lo?!” Mata gue seperti mau copot ada nama Chay dibawa-bawa, mengendus sesuatu yang nggak beres.
Mendekat perlahan, Bian pura-pura membersihkan bagian atas kemeja gue, semakin curiga dengan senyumannya itu. “He … he … he … ini juga demi lo, Can!”
Tanpa reaksi gue memperhatikan playboy bule meneruskan ucapannya.
“Jadi, Ceceu mau dianter pulang, asal lo juga anter Chay pulang. Intinya kita berdua bakal berusaha membantu biar lo bisa jadian ama Chay.”
“Terus bonusnya Ceceu jadian ama lo, gitu?!”
“Pinter, lo!”
Mendengus pelan, masih ada rasa belum ikhlas melepas nenek bawel jadi pacarnya playboy bule satu ini. Meski sebenarnya gue tahu luar dalamnya ini anak. Baru saja mulut sedikit terbuka ingin ngoceh, terdengar suara ibu Mayang,
“Bian!”
Ibu Mayang melambai-lambaikan tangan dari luar kelas anak akselarasi. Lekas Bian berjalan cepat menghampiri, sedangkan gue melanjutkan perjalanan.