Animo Ican (arti cinta)

R Hani Nur'aeni
Chapter #18

SEMANGAT KAKANG ICAN

Masih terngiang ucapan Ceceu tentang syarat kencan dengan Chay, ya ampun sekalinya jatuh cinta susahnya minta ampun. Kenapa hati ini memilih wanita yang sangat sulit didapatkan dari sekian banyaknya cewek yang hilir mudik di sekolah. Helaan napas tidak juga mengurangi beban di hati. 

Menggaruk-garuk dahi, memikirkan bagaimana caranya minta ijin pada ketiga kakaknya Chay. Belum lagi pasal uma,

Akkkrrrgggg!!!

Urusan hati tidak bisa berdusta, meski sulit harus berusaha sembari berdoa. Sudah kepalang basah, nyebur sekalian lah. “Pantang mundur sebelum berperang sampai tuntas!” Begitu kata Ceceu memberikan semangat. Seperti perang, harus menyiapkan strategi jitu menghadapi ketiga kakaknya Chay.

Namun, terasa ada batu berat di kepala, membuat otak tersendat untuk berpikir. Otak butek banget, membuat gue terbaring lemah di kamar ditemani bantal dan guling. Mengembuskan napas memandangi langit kamar, membayangkan wajah Chay. Berpikir tentang syarat kencan, 

Kira-kira ketiga kakaknya kayak apa ya?  

Sifat mereka seperti apa? 

Berbagai pertanyaan mampir di kepala, membuat hati bimbang. Nekat aja kali ya, langsung datang ke rumah Chay minta ijin buat nonton. Tapi nggak mungkin segampang itu. Tiba-tiba saja imajinasi menjadi liar. Membayangkan ketiga kakaknya Chay, gendut dan galak. Tiga orang gendut berpakain kotak-kotak dengan nada kejam nyuruh-nyuruh gue. Kemudian mereka membentak-bentak dan tertawa puas ketika melihat gue menderita dan memohon-mohon diijinkan nonton dengan Chay.

“Astagfirullah, serem amat ya. Nggak lah, nggak mungkin kayak gitu!” Lekas menepuk-nepuk wajah, agar semua bayangan buruk tadi hilang dari otak. Ya Allah, semoga tidak seburuk itu ketiga kakaknya, Chay. Tiba-tiba terdengar suara dari luar kamar,

“Woy!!!”

Suara itu makin terdengar jelas, diiringi langkah seseorang masuk ke dalam kamar. “Kasian amat yang stress pengen nge-date. He … he … he ….” ocehnya, sembari terkekeh.

“Kalau datang buat nyinyir mending lo jauh-jauh. Tapi kalau mau bantu, boleh masuk kamar gue!” tanpa menoleh, mengoceh sembari menatap langit kamar dengan sendu. 

Tiba-tiba seseorang menggeser-geser pantatnya agar bisa duduk dengan nyaman. Kemudian sebuah tangan menyapu muka gue dengan seenaknya.

“Apa enaknya sih, baring sambil liatin atap kamar?”

Karena gue tidak bereaksi apa pun, ia ikut berbaring dengan sengaja menggeser-geser badannya, bikin sempit. Terpaksa bangkit dan duduk di tepi sofa bed diikuti Ceceu menatap lekat wajah gue.

Sesaat menatapnya, lalu meminta pendapatnya. “Kasih ide, mesti ngapain supaya dapet ijin dari kakaknya Chay? Bisa deket ama Chay aja gue susah payah. Sekarang mesti ngadepin tiga orang kakaknya.” 

Lihat selengkapnya