Animo Ican (arti cinta)

R Hani Nur'aeni
Chapter #20

AIR MATA UMA


Rasanya baru beberapa saat mata ini tertutup, tiba-tiba ….

“Kang ….”

Suara uma, memaksa kedua mata kembali terbuka. Pintu kamar terbuka, terlihat kepala uma menyembul dari balik pintu. Lampu kamar menyala, uma mendekat lalu duduk ditepi sofa bed menatap gue yang masih memicingkan mata terkena cahaya lampu. Alunan murotal tetap terdengar ketika uma mulai bicara,

“Baba belum pulang, Kang ….”

Raut wajah uma terlihat cemas, dadanya agak naik sebelum ia mulai bicara lagi.

“Kamu ingat mas Evan kan?”

Mengangguk sembari ngucek mata, memasang kuping mendengarkan lanjutan cerita uma. 

  “Habis maghrib mas Evan kesini, menyerahkan berkas kantor yang diminta baba. Kata dia, tadi siang ada perempuan muda lagi hamil nemuin baba, lalu mereka pergi bersama. Dari tadi uma telpon baba, nggak diangkat.”

Mendung di matanya mulai tampak,uma meremas-remas jemarinya. Lekas menyambar ponsel, mematikan murotal. Menutul layar ponsel, menelepon baba dan menyalakan speakerphone.

‘Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi atau berada di luar jangkauan area.’

Uma menyatukan kedua tangannya, kembali meremas-remas jemarinya. Dada uma turun naik, napasnya berat. Kemudian ia menutup kedua mulut dan hidungnya dengan kedua tangannya sambil menghela napasnya. Lekas menggenggam kedua tangannya, berusaha menenangkan, titik bening mulai turun perlahan dari ujung matanya.

“Tenang uma, kita berdoa baba baik-baik aja.”

Uma mengangguk seiring terdengar deru mesin mobil masuk ke halaman rumah. Kami segera keluar kamar menuju pintu depan. Uma menyingkap gorden jendela, baba turun dari mobil berjalan menuju pintu. Baba terkejut melihat gue dan uma menunggu kedatangannya di depan pintu.

“Loh, belum tidur, Kang?!”

Menjawabnya dengan anggukan, uma memberi tanda agar gue kembali tidur dengan senyum yang dipaksakan. Tanpa bertanya gue masuk kamar, tapi tenggorokan yang kering memaksa kedua kaki keluar kamar lagi. Tanpa sengaja mendengar uma dan baba bertengkar, ini untuk pertama kalinya.

“Uma nggak akan sanggup memenuhi keinginan baba!”

“Jangan salah paham dulu, ini demi kebaikan kita semua.”

Lihat selengkapnya