Animo Ican (arti cinta)

R Hani Nur'aeni
Chapter #21

BINGUNG

“Kang!!!”

“Bangun, mentang-mentang libur, molor mulu!”

Suara berisik bagaikan radio rusak mengganggu ketenangan genderang kuping. Tiba-tiba terjadi gempa lokal, badan terguncang-guncang. Tanpa menyerah nenek bawel berusaha membangunkan, sampai akhirnya gue duduk di sampingnya. Mengucek-ngucek mata sembari menatap deretan giginya tepat depan mata. Setelah memastikan gue tidak tidur lagi, dengan santai ia meninggalkan kamar sambil bersenandung.

Berusaha mengumpulkan nyawa sebelum beranjak, sembari mengejap-ngejap mata. Mulut terbuka lebar, lekas menutupnya dan bersiap kembali merebahkan tubuh. 

“Stop! Jangan coba-coba tidur lagi, buruan bangun. Udah pada nunggu tuh di meja makan!”

Ternyata nenek bawel masih mengawasi, untung teriakannya tidak membuat mata jadi segar. Memilih kembali rebahan, dan meraba-raba sekitar. 

“Gue ngantuk berat, Ceu ….” Menguap, memaksa mata tetap terjaga. 

“Uma, baba, Za mau ke Bandung. Udah jam setengah sepuluh, tuh!”

Ceceu memperlihatkan ponsenya tepat di depan mata, lalu tanpa rasa bersalah ia keluar kamar. Mendengar ucapannya, bikin gue kaget. Kembali meraba-raba sekitar mencari ponsel. Setelah beberapa saat akhirnya ketemu juga, rupanya ngumpet di bawah bantal. Dasar nenek bawel, mengumpat menatap tanda waktu di ponsel. Tertera di layar ponsel jam delapan lewat lima belas menit, tadi ia bilang setengah sepuluh. 

Teringat ocehan Ceceu: uma, baba, dan Za hendak ke Bandung. Ada apa ini, Za sampai diajak kecuali gue dan Ceceu. Teringat pertengkaran uma dan baba semalam, mata yang tadinya berat untuk dibuka mendadak segar bugar. Melesat ke kamar mandi, cuci muka dan gosok gigi.

Di ruang makan, uma sibuk menyuapi Za. Baba menikmati sarapan dengan tenang, Ceceu menyiduk nasi goreng ke piringnya. Kenapa semuanya tampak biasa saja, tak ada tanda terjadinya pertengkaran antara uma dan baba, ada yang aneh.

“Kang, titip Ceceu ya. Baba antar uma dan Za ke Bandung, ada urusan sekalian jenguk Enin ma Engking.”

Mengangguk menjawab permintaan baba, sambil menarik kursi meja makan. Gue duduk di sebelah Ceceu, diseberang uma dan Za, baba duduk di ujung meja makan – meja makan berbentuk persegi panjang.

“Kakang jangan kemana-mana, suruh aja teman-temannya datang ke rumah kalau bosen.”

Sesaat bertatapan mata dengan uma, meski berusaha disembunyikan dapat merasakan kegelisahannya. Matanya berkabut, ingin sekali bertanya tapi harus ditahan.

Selesai makan uma dan baba menyiapkan barang-barang yang akan dibawa dan memasukannya ke bagasi mobil, sementara Ceceu menemani Za menyiapkan buku cerita yang akan dibawanya. Biasanya Za belum mau tidur kalau tidak dibacakan dongeng.

Sebelum masuk mobil, uma berbisik ke telinga gue ….

“Jaga Ceceu ya, pulang dari Bandung akan uma ceritakan semuanya,” ucap uma. Tangannya membelai lembut pipi, kami saling beratatapan. Kemudian ia mengajak Za masuk mobil. 

Mendengar ucapannya, semakin bertanya ada apa sebenarnya? Bingung dan penasaran silih berganti berseliweran dalam otak, rahasia apa yang disembunyikan uma dan baba???

~~~ 


Harusnya nanti malam menjadi malam istimewa, bertemu dengan ayah Chay. Tapi rahasia uma dan baba mengurangi semangat yang tadinya berkobar. Malas dan enggan pergi mulai menyerang. Inginnya membatalkan acara nanti malam, tapi nggak enak dengan Chay. 

Kepergian uma dan baba karena pertengkaran tadi malam, apa yang akan mereka lakukan di Bandung? Bawaan mereka lumayan banyak. Kenapa Ceceu tidak merasa aneh, sikapnya biasa saja. Gue lihat Ceceu di kamarnya, asyik membaca buku. 

“Ceu, baca apaan?”

Lihat selengkapnya