Animo Ican (arti cinta)

R Hani Nur'aeni
Chapter #23

MAAF GUE BENCI BOKAP LO!!!

Tap … tap … tap ….

Langkah kaki mereka semakin mendekat, ada dua bayangan memasuki ruang tamu. Ceceu berdiri, bersiap menyambut mereka.

“Assalamu`alaikum ….” 

Terdengar suara berat mengucap salam. 

“Wa`alaikumussalam …,” jawab gue dan Ceceu bersamaan. 

Chay berjalan masuk bersama lelaki paruh baya dengan penampilan kasual. Lelaki paruh baya itu menggunakan kemeja coklat muda berpadu celana jeans, seleranya sangat bagus. 

“Ayah, jangan galak-galak ya ….” 

Terdengar suara Chay agak berbisik, ia memohon dengan manja. Tangannya menggapit lengan lelaki paruh baya itu, sembari bola matanya sesekali mencuri pandang.

Ceceu tampak tidak sungkan dengan ayahnya Chay. Ia mendekati lelaki paruh baya itu dengan santai, mencium tangannya lalu menyapanya.

“Lagi banyak kerjaan ya, om?”

“Iya, Ceceu apa kabarnya, sehat? Uma dan baba sehat?”

“Alhamdulillah, mereka sehat.”

Ia mengenal uma dan baba, mungkin karena Ceceu bersahabat dengan Chay. Tanpa berpikir lagi lekas bangkit dari duduk, berjalan pelan mendekati mereka. Senyuman hangat tampak di wajah lelaki paruh baya itu. Ketika kami saling berhadapan ia mengulurkan tangan dan menyapa dengan ramah,

“Ini pasti Kakang ya? Chay banyak cerita tentang kamu. Saya ayahnya Chay.”

Wajah Chay bersemu merah mendengar ucapan ayahnya. Menerima uluran tangannya, dengan susah payah berusaha menggerakan bibir agar membentuk lengkungan senyum. Tangannya kekar, kami bersalaman dengan kuat, saling menatap. 

Setelah beberapa saat saling menatap, wajahnya tampak tidak asing. Saat hendak melepas genggaman tangannya, senyumnya mengingatkan pada seseorang. Di mana pernah melihat senyum itu? Restoran milik pak Udin dan istrinya. Ya, senyuman itu adalah …. 

Tiba-tiba sekelebat bayangan masa lalu membangkitkan amarah dan kebencian yang tersimpan selama ini. Dia adalah orang yang menyebabkan kematian istrinya pak Udin, merampas paksa usaha mereka demi kepentingan bisnisnya, dengan cara yang kotor. Dalam sekejap lukisan senyum di bibir lenyap, menatap tajam padanya penuh amarah. Melepaskan genggaman tangannya dengan kasar.

“Maaf, saya permisi pulang! Saya tidak bisa bertamu di rumah orang yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang! Ceu, kita pulang sekarang!”

Lihat selengkapnya