Setelah kejadian itu, memilih lebih banyak diam di kamar. Telepon dari sohiber pun tak digubris. Meski awalnya Ceceu marah dan kecewa, tapi sikapnya kini berbeda setelah ia tahu alasan gue membenci bokapnya Chay.
Rupanya Tama dan Toto diinterogasi olehnya, dia mengoceh seperti beo bertanya kebenaran cerita perampasan restoran milik pak Udin oleh bokapnya Chay. Sejak saat itu ia terlihat cemas dengan kondisi gue. Ingin sekali bercerita padanya bahwa yang menjadi beban utama adalah pertengkaran uma dan baba, tapi sulit.
Meski Ceceu mengundang Bian, Tama, dan Toto untuk menghibur tapi tidak berpengaruh bagi gue. Tidak memedulikan kehadiran mereka, gue lebih memilih mendengarkan musik sembari tiduran yang membuat nyaman untuk saat ini.
Dua hari kemudian uma dan baba pulang dari Bandung, rupanya Ceceu meminta mereka agar pulang lebih cepat karena keadaan gue. Memang sih, dari kemarin hanya tiduran di kamar, baru makan sore hari, sepertinya Ceceu kuatir gue sakit.
Uma, baba, dan Za datang setelah dzuhur. Mereka membereskan barang bawaan lalu istirahat, tak sabar ingin menagih janji pada uma. Namun, melihat wajahnya lelah jadi tak tega.
Untung saja uma tidak lupa dengan janjinya, usai makan malam ia mengajak ke halaman belakang. Kami duduk sambil memandangi ikan-ikan yang asyik berenang diterangi cahaya bulan. Bintang-bintang memancarkan cahayanya menemani sang bulan menerangi langit malam.
Uma duduk tidak jauh dari tempat gue, kami duduk sejajaran. Ia menatap dengan wajah yang menyimpan rahasia, bibirnya bergerak seolah ingin bicara tapi tertahan. Setelah beberapa saat terdiam, uma mengambil tangan gue lalu menepuk-nepuk punggung tangan. Ia menatap penuh kasih,
“Sebelum mulai cerita, uma minta Kakang janji mendengarkannya sampai selesai. Memang sudah waktunya Kakang mengetahui semua.” ucapannya terhenti sesaat, “semua dilakukan karena kami sayang Kakang.”
Mengangguk menyetujui syarat yang diberikannya, hati ini semakin dipenuhi tanya. Rahasia apa yang akan diungkapkan berkaitan dengan gue? Fakta apa yang disembunyikan uma dan baba selama ini?