UMA SUKMA
Tatapan Kakang, persis dengan tatapan matanya. Begitu mempesona, gadis mana yang tidak akan jatuh hati. Bodohnya aku, merasa beruntung memiliknya saat itu. Namun, cinta yang kurasakan membawa malapetaka, memperlihatkan betapa pengecutnya lelaki yang kucintai.
Menghempas napas, sebelum melanjutkan ceritaku. “Kita lanjutkan ceritanya, Kang?” tanyaku pada Kakang. Ia mengangguk dan berusaha mengukir senyum, meski aku tahu itu tidak mudah baginya.
“Dunia terasa runtuh, menyesal selalu datang terakhir. Rozak membawa pisang goreng sore itu. Ia selalu meminta ibunya berbagi makanan yang dibuat dan mengantarkannya pada anak kos-an agar bisa bertemu dengan Sukma. Ia mencari Sukma, karena tidak ikut menyambut pisang goreng yang dibawanya.”
Berhenti bercerita, kembali menatap Kakang. Ya Allah, kuatkan hamba-Mu untuk mengungkapkan semuanya.
“Kakang pasti tahu, Rozak yang uma ceritakan adalah baba. Sedangkan Sukma itu adalah uma. Kisah ini merupakan perjalanan terpahit sepanjang hidup uma, sekaligus menjadi titik awal kebahagiaan uma dan baba.”
Ia tercenung mendengar ucapanku. Luka itu sudah hampir hilang, kenapa ia harus datang mengoreknya lagi.
Kembali ke masa lalu ….
“Dari pagi Sukma belum keluar kamar, Dini ada bersamanya sekarang,” ujar Santi.
Karin si biang gosip ikut menimpali dengan sedikit berbisik, “Katanya Arman dijodohkan oleh ortunya, Sukma patah hati. Aku dengar tangisannya tadi, saat melewati kamarnya.”
Ucapan mereka terdengar samar-samar, karena mereka berada agak jauh dari kamarku. Arman salah satu idolak kampus, tentunya hubungan asmaraku menjadi lalapan gosip mereka. Tak perduli dengan ocehan mereka, ada yang lebih penting dari semua itu.
“Gue bingung, Din….” ucapku diiringi isak tangis. Aku duduk di ranjang mendekap bantal.
“Arman tau keadaan lo, kan?” tanya Dini, yang duduk ditepi ranjang. Ia mengusap-usap punggungku, mencoba menenangkan.
Aku mengangguk pelan, tapi tetes-tetes air semakin membanjiri pipi membasahi bantal yang ada dalam dekapan mengingat nama itu. Meratapi kebodohan diri, dibutakan oleh cinta, termakan janji manis lelaki yang katanya sangat mencintaiku.
Memegang perut, lalu meremas-remasnya dengan kasar, memukul-mukulnya. Menyalahkannya, kenapa harus ada dalam perutku.
“Stop Sukma! Anak dalam perut lo nggak salah!” Dini memegang tanganku, menghentikan perbuatanku.
Aku semakin terisak, terbayang kembali rapat keluarga yang memojokkanku. Tidak ada satu pun yang membela, mereka semua menyalahkanku. Terngiang ucapan mami, “Harus digugurkan! Tidak ada kompromi, kuliahmu harus selesai!”