Tetes-tetes bening mengalir pelan dari ujung mata uma, gue hanya bisa menatapnya, bingung nggak tahu harus bagaimana.
Glup …!!!
Menelan ludah, tiba-tiba perasaan tak nyaman mulai merayap. Entah kenapa, muncul keinginan untuk tidak mendengar kelanjutan cerita. Namun, rasa penasaran menahannya. Sudah beberapa hari kemarin menunggu, ada keragu-raguan, tapi akhirnya memilih tetap duduk dan mendengarkannya.
Menghela napas dengan tatapan mata yang jauh, uma melanjutkan ceritanya. “Rozak tidak pernah menyentuh Sukma, meski sudah sah menikah baik secara agama maupun negara. Padahal tidur satu kamar, di ranjang yang sama. Ketika ditanya jawabannya, ‘belum saatnya, aku ingin menjaga kamu dan bayi dalam kandungan sehat dan lahir selamat’. Ucapannya membuat semakin merasa bersalah dan tidak nyaman. Tapi perasaan itu berusaha ditampik. Sebagai perempuan yang kotor dan hina sudah sepantasnya bersyukur ada lelaki yang mau bertanggung jawab, jadi tidak pernah bertanya atau protes dengan semua sikapnya.”
Uma berhenti bercerita, memandang langit memejamkan matanya perlahan ia menghirup udara malam membuat dadanya terangkat. “Hidup itu misterius, Kang.” membuka matanya, “tidak bisa ditebak, kadang kita tidak akan percaya dengan apa yang kita alami.”
Malam itu uma tidak menggunakan kaca mata seperti biasanya, terlihat dengan jelas matanya digenangi air. Ia kembali melanjutkan ceritanya,
“Label Playboy Kampus Biru sangat melekat padanya, anak yang katanya selalu bikin masalah. Namun, saat mulai menjalani hidup sebagai istrinya, sikapnya sangat jauh berbeda. Sholat shubuh nggak pernah kesiangan, hampir tiap malam tahajud, selalu berusaha sholat di awal waktu. Lantunan ayat Qur`an darinya menemani perjalanan kehamilan, sangat terasa nyaman dan tenang. Rozak adalah suami yang bertanggung jawab, tidak peduli siapa sebenarnya ayah anak dalam kandungan istrinya, ia berusaha menjadi calon ayah terbaik sesuai janjinya.
Enin dan engking mengantar ke dokter kandungan tiap bulan, sangat cerewet nyuruh banyak makan agar kandungan terjaga dengan baik, agar bayinya sehat. Kasih sayang mereka melebihi orang tua sendiri.
Usia kandungan Sembilan bulan lebih dua hari, lahir anak bernama Muhammad Ihsan Rozak, ‘Ihsan artinya kebaikan, kelahiran anak ini akan membawa kebaikan’ itu yang diucapkan engking sambil menggendongmu. Engking yang memberi namamu, mereka tidak merasa malu atau hina atas kelahiranmu. Baba dan keluarganya menyambut dengan suka cita, kebahagiaan yang hadir saat Kakang lahir.”
Jgeeer ….
Kepala seperti terhantam palu besar, gue anak haram itu. Anak hasil perbuatan zina, bagaimana mungkin??? Tanpa mengindahkan raut muka gue yang berubah, uma kembali bicara.