Alarm dari ponsel terlewat begitu saja, tahajud bolong lagi. Hari ini tidak ikut baba sholat ke mesjid, kepala terasa begitu berat. Perlahan memaksa bangun untuk sholat subuh. Usai sholat, termenung duduk di hamparan sajadah. Teringat ucapan baba, “Kang jangan lupa dibiasakan sholat dua rakaat sebelum subuh.”
Kemudian ia membacakan sebuah hadis, “Dua raka`at fajar (salat sunat qobliyah subuh) lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR. Muslim no 725)
Hari ini jangankan sholat sunat qobliyah, subuhnya aja kesiangan. Baba mungkin kecewa jika mengetahuinya.
Memori silam berkelebatan, sejak kecil baba selalu membawa gue sholat subuh ke masjid. Meski nantinya ketiduran, pulang digendong baba. Tidak pernah lelah baba membiasakan gue sholat di mesjid.
Kata baba, “Laki-laki itu wajib sholat di masjid jika tidak ada uzurnya.”
Kalau memang gue bukan anak kandung baba, kenapa ia begitu bersusah payah mendidik gue agar menjadi anak yang soleh seperti doa-doanya selama ini. Apakah semua ini hanya mimpi buruk yang akan segera berlalu? Tapi cerita uma tadi malam sangat jelas, masih terngiang di kuping.
Mata sangat tidak bersahabat untuk menyambut matahari, entah jam berapa tadi malam benar-benar tertidur pulas. Tergeletak pasrah beralaskan sajadah sembari meregangkan tangan dan kaki, merem melek berulang kali. Rasa lelah membuat gue termenung menatap langit kamar, membawa kesadaran melayang-layang akhirnya bermain di alam mimpi.
~~~
Weev… woov… weev… woov….
Suara alarm sangat berisik, berusaha membuka mata yang begitu lengket seperti dilem. Meraba-raba sekitar mencari benda kotak panjang warna hitam yang mengeluarkan suara berisik itu. Memasang kuping, mendengarkan dari mana asal suara untuk melacak keberadaannya.
Menggeser-geser badan mendekati asal suara, dengan susah payah memindahkan seluruh tubuh ke atas sofa bed menindih benda yang dari tadi dicari. Menariknya dari bawah badan, menyentuh layarnya agar benda ini berhenti mengeluarkan suara yang semakin lama membuat kepala gue sakit.
Mengejap-ngejap mata, mengangkat ponsel lalu memicingkan mata agar bisa melihat jam berapa. Tiba-tiba,
Pluk ….
Ponsel terlepas dari tangan, mendarat tepat di jidat.
“Aww …!!!”
Dengan kesal mengangkat ponsel sialan yang membuat mata mendadak segar bugar dan merasakan senut-senut di sekitar jidat. Perlahan bangkit, duduk sembari mengusap-usap jidat. Membolak-balik ponsel dengan mata merem melek. Tidak ada yang berubah masih warna yang sama dengan bentuk yang sama. Telunjuk kanan menyentuh layarnya, terlihat jelas pukul sembilan lewat lima puluh enam.
Sudah siang, tapi begitu tenang, tidak seperti biasanya. Kenapa bisa gue tidur selama itu tanpa gangguan. Apa tidak ada orang di rumah? Lekas berjalan ke luar kamar, mencari-cari penghuni lainnya. Ceceu ada di kamarnya asyik bermain ponsel, Za menonton televisi. Baba sepertinya sudah ke kantor, suara uma mengagetkan …
“Kakang udah bangun? Sarapan dulu gih, uma bikin nasi goreng teri.”
Mata kami saling bertatapan, tampak normal seolah tidak ada pembicaraan berat yang terjadi tadi malam. Namun, matanya tak bisa berbohong, tampak jelas jejak tangis tadi malam. Hanya satu anggukan kemudian berlalu dari hadapannya.
Selesai mandi dan berpakaian, tanpa menyentuh makanan di meja makan pamit pada uma meninggalkan rumah ditemani Si BeTem tanpa tujuan yang jelas. Laju motor tidak sekencang biasanya, ingin menikmati perjalanan. Mencari sesuatu yang bisa membuat hati tenang. Dan ketika jalanan mulai menanjak, menaikan kecepatan sehingga deru mesin motor semakin kencang.
Broonngg …broonngg … broonngg ….