CHAYRA
Brakk!!!
Membanting buku ke atas meja, menumpahkan kesedihan. Rasa kecewa, kesal, dan amarah amat membuncah dalam dada. Menarik laci meja, mencari pigura foto biru muda. Mata mulai berkabut, gelombang air di dalamnya memaksa keluar dari kedua mata.
Hiks … hiks … hiks ….
Tak terelakan lagi, tumpah ruah banjir lokal di muka gue. Menjatuhkan diri ke atas kasur disertai isak tangis, memeluk pigura foto dengan erat. “Kenapa???!!! Kenapa harus gue???!!! Kenapa selalu gue yang merasakannya???!!! Nggak adil buat gue!!!” sekencang-kencangnya berteriak sambil menelungkupkan badan ke bantal.
“Bun, Chay mau bunda ada disini. Chay butuh bunda!”
“Mbak Nay, napa lo tega sama gue? Kenapa lo pergi, mbak?”
“Mereka semua nggak ngerti perasaan Chay!”
“Semua gara-gara ayah!!!”
Meracau tanpa henti menumpahkan isi hati, berharap bebannya akan menghilang. Tapi kenyataannya tidak seperti itu, sesak dalam dada tidak berkurang malah kepala terasa berat dan berdenyut. Penglihatan agak berkabut, terasa amat lelah.
Tok …tok … tok ….
Terdengar ketukan, pintu terbuka disertai kepala ayah menyembul dari balik pintu.
“Chay, kata mas Agung kamu belum makan. Ini ayah ….”
Melihat wajah gue sembab disertai tetes bening mengalir di pipi, ayah jadi panik. Ia lekas mendekat, duduk di tepi ranjang. Tangannya membawa bungkusan.
“Chay kenapa? Maafkan ayah, Chay mau kan memaafkan ayah?”
Raut wajahnya mendadak mendung, meletakan bungkusan ke lantai, mengusap lembut kepala gue. Bukannya senang, dengan kasar menepak tangannya agar tidak menyentuh kepala, bergeser sedikit menjauh darinya.
“Chay minta ayah keluar dari kamar!”
Mas Bima masuk kamar bersamaan kata-kata kasar yang keluar dari mulut gue.
“Chay, nggak baik ngomong gitu!” ucapnya tegas.
Tapi saat melihat gue yang masih meneteskan air mata, nada bicaranya turun. “Liat tuh, tahu Chay belum makan dari pagi ayah langsung pulang, bawain martabak telor spesial kesukaan kamu.”
Mas Agung masuk dengan santai membawa sepiring nasi, “Chay, martabak telor paling enak dimakan pake nasi selagi panas. Masih kriuk-kriuk, garing ….” ucapannya terputus melihat dan merasakan suasana dingin di dalam kamar. Ia melirik ke mas Bima, lalu ke ayah, meletakan piring ke atas meja kemudian menatap gue.
“Ada apa ini, kok diam semua?!”
Sambil mendekap erat figura foto bunda dan mbak Naya, meminta mereka semua pergi membiarkan gue sendiri, terutama ayah, orang yang menyebabkan semua ini.
“Chay mau kalian semua keluar dari kamar!!!”