Sudah beberapa hari gue menginap di rumah pak Udin, membantunya mengerjakan motor tua yang belum beres juga sejak bulan lalu. Sibuk di bengkel membuat lupa dengan kekacauan yang terjadi di otak. Ia tidak pernah bertanya, meski sepertinya tahu alasan gue tidak pulang ke rumah.
Menatap piala yang berjejer di lemari kaca, lemari yang sengaja dibuat oleh pak Udin untuk memajang piala-piala hasil kejuaraan silat yang diikuti murid-muridnya. Berkat latihan dan disiplin waktu yang diterapkan olehnya, gue dan sohiber berhasil menyumbang beberapa piala yang kini ada di lemari kaca itu.
Ingatan mundur dua tahun lalu, saat pak Udin harus kehilangan istrinya setelah sakit selama dua bulan karena kehilangan restoran. Sejak istrinya meninggal pak Udin giat melatih silat, menemani kami mengikuti berbagai kompetisi baik di dalam kota atau luar kota sebagai pelariannya mengobati kesedihan hatinya.
Sangat wajar jika setiap orang mencari tempat pelarian untuk menghilangkan kesedihan, kekecewaan, dan sakit hati. Butuh waktu untuk memulihkan keadaan menjadi lebih baik, seperti hal-nya gue dan pak Udin.
Bukan hal aneh kalau lagi ada masalah di rumah pasti numpang di bengkel, tapi kalau kelamaan nggak enak juga. Habis bingung mau kemana lagi, paling enak di sini, ngebengkel dan melatih silat bocah cilik.
Menghilangkan stress dan penat, meski belum mendapat solusi hingga saat ini. Setidaknya pikiran istirahat sejenak melupakan masalah yang terjadi. Kalau numpang di rumah sohiber pasti disuruh pulang dan diceramahi, malas lah.
“Ican ….”
Teguran pak Udin membuyarkan semua lamunan, kami duduk berhadap-hadapan di kursi yang ada di depan bengkel.
“Membenci seseorang itu wajar, tapi jangan keterusan. Kalau bisa jangan dijadikan dendam dan amarah yang tersimpan. Bapak yang menjadi tokoh utamanya saja sudah bisa memaafkan.”
Ucapannya seperti mengingatkan, seolah ia tahu apa yang menjadi masalah yang bikin otak gue semrawut.