Animo Ican (arti cinta)

R Hani Nur'aeni
Chapter #30

BABA DAN KAKANG ICAN


Selama beberapa hari menginap di rumah pak Udin, merenungkan apa yang telah terjadi dalam beberapa minggu ini, akhirnya gue pamit pulang. Namun, sebelum pulang ke rumah, memutuskan ikut rombongan wisata naik Citros. Bus wisata khusus di kota Cirebon namanya Citros singkatan dari Cirebon Tourism on Bus yang diresmikan 23 Februari 2019. 

Tempat mangkalnya di depan keraton Kasepuhan di jalan Pulaseran. Setelah membeli tiket, mencari kursi kosong dalam bus. Melihat showcase minuman dingin, membayangkannya, amat menggoda. 

Mengeluarkan selembar uang dua puluh ribuan lalu menyodorkan pada petugas, setelah mengambil minuman dingin kembali duduk setelah mendapat kembalian. Meneguk dinginnya air yang terasa manis menyejukkan kerongkongan, sungguh sangat nikmat. 

Bus mulai bergerak melewati jalan Pasuketan, melewati jejeran toko-toko tua. Hilir mudik orang-orang di sepanjang jalan dengan kesibukan mereka. Kemudian lanjut ke jalan Parujakan melewati stasiun. Rute perjalanannya dilanjutkan menuju jalan Tentara Pelajar – jalan Cipto – jalan Kartini – jalan Siliwangi – jalan Bahagia – jalan Benteng – jalan Yos Sudarso, berakhir di alun-alun.

Murah meriah, cukup membayar sepuluh ribu mengelilingi kota Cirebon. Meski hanya sebentar, cukup membuat otak berpikir sepanjang perjalanan. Menikmati pemandangan kota Cirebon dari bus terbuka, memperhatikan orang-orang, menimbulkan pertanyaan yang sama. Adakah diantara mereka yang nasibnya sama seperti gue, menjadi anak haram? 

Waktu terus bergerak maju, suka tidak suka harus menerima kenyataan meski pahit dan menyakitkan. Masalah tidak akan selesai jika terus menghindarinya. Ditambah ada rindu yang dirasa saat tidak bertemu Ceceu dan Za, bertanya dalam hati apakah mereka juga merindukan gue? 



“Kakang!!!” teriak Za saat melihat kemunculan gue di pintu depan. Ia berlari menyambut, lalu menarik tangan mengajak ke kamarnya. Menunjukan gambar yang dibuat olehnya. 

“Kakang kalau pergi bawa ini ya.” memberikan gambarnya, “jadi Kakang bisa pulang ke rumah. Kata Ceceu, Kakang nggak pulang karena tersesat.” 

Wajahnya sangat serius, ia menatap cemas seakan ingin mengatakan agar gue jangan tersesat lagi. 

“Za, kangen Kakang.” 

Za menggambar peta rumah kami, pipi tembemnya begitu menggemaskan, saat ia mendongakan wajah melihat sosok tinggi di hadapannya. Ia melingkarkan kedua tangan di pinggang, memeluk sangat erat seolah takut kehilangan gue. 

Tersenyum menggendong Za, bicara pada diri sendiri, ‘Za, ayah kita berbeda tapi kita berasal dari ibu yang sama. Kakang janji akan selalu menjaga Za.’ 

Menatap lekat wajahnya, lalu menurunkannya dari gendongan, menuntunnya keluar kamar. Memintanya nonton televisi, sementara gue menuju kamar Ceceu. Ia sedang termenung menatap foto keluarga yang terpajang di tembok kamar, foto itu diambil saat lebaran idul fitri tahun lalu. Enin dan Engking duduk di kursi, ada Za diantara mereka. Gue dan Ceceu berdiri dibelakang mereka, sedangkan baba dan uma berada di sisi kiri dan kanan mereka.

“Ceu ….”

Ceceu mengalihkan pandangannya, titik-titik bening perlahan mengalir di pipinya. “Ngapain disitu, sana pergi lagi yang jauh nggak usah pulang-pulang!” usirnya dengan suara parau menahan tangis. 

“Nanti kangen dong kalau gue nggak pulang,” canda gue, mencoba menghiburnya. Mengembangkan senyum nakal mengedipkan sebelah mata mendekati Ceceu, kemudian duduk disampingnya. “Kita kelihatan bahagia banget ya, Ceu.” Ikut memandangi foto tadi. 

Membentangkan kedua tangan memasang senyum terbaik untuknya. Tanpa diminta Ceceu mendekap gue, air mengalir dari kedua matanya, membasahi kemeja yang gue pakai. Pelukan yang harusnya diabadikan, sangat jarang kami bisa akur seperti saat ini.

“Maapin gue, Ceu.” 

Ceceu masih dalam pelukan gue saat ia berkata, “Kalau mau kabur ajak gue ama Za, jangan sendirian.”

Mengacak-ngacak rambut Ceceu, baru menyadari telah membuat mereka cemas karena kepergian gue. “Tenang, nggak akan tersesat lagi. Za udah ngasih peta rumah kita, nih.”

Menunjukan gambar yang dibuat Za, kemudian kami tertawa. Dengan sengaja mentoyor kepala Ceceu, ia membalas hingga terjadi perang bantal seperti biasanya.

Baru berhenti ketika suara uma terdengar, “Kakang udah pulang?” 

Wajah uma terlihat pucat, terdiam sesaat menatap perempuan istimewa yang memberikan kesempatan untuk gue melihat dunia meski dimusuhi orang tuanya. 

Mendekatinya, mencium tangannya lalu mengelus wajahnya. Mengesat air yang mengalir dari kedua matanya. “Maapin Kakang, uma,” tersenyum padanya, “Kakang akan memenuhi janji Kakang pada baba. Menjaga uma, Ceceu, dan Za untuk baba.”

Lihat selengkapnya