Pagi-pagi kamar sudah dibajak para perusuh, mengganggu jatah tidur yang harusnya masih bisa dinikmati dengan tenang. Niatnya usai mandi kembali berleha-leha merebahkan diri di sofa bed, memejamkan mata mengistirahatkan otak. Kenyataannya, setelah keluar kamar mandi, begitu masuk kamar: Tama, Toto, dan Bian sedang bertengger dengan santai.
“Ngapain lo pada di kamar gue?”
“Iki bocah, tanya kabar kek, sapa menyapa. Ira ngilang wis piram dina? [23] Ndak ngerasa bikin kita watir.”
Tama menggeleng-geleng sembari berdecak selesai Toto ngoceh, Bian turut serta menyambung ocehan Toto. “Ira weru beli, [24] om Zhaffar ketabrak mobil.” Sesaat menatap gue, lanjut mengoceh. “Kasian Chay, jeh.”
Satu persatu mereka mengoceh, menumpahkan semua isi hati dan kekesalan karena gue susah dihubungi. Waktu itu sengaja mematikan ponsel agar tidak diganggu, sebetulnya mereka tahu gue ada di mana. Sepertinya pak Udin sengaja melarang mereka datang, agar gue bisa menenangkan hati.
Setelah capek mengeluarkan banyak energi, mereka minta asupan gizi pengganti banyaknya kalori yang habis karena mengoceh.
“Can, kempong jeh. Isun ora mangan.” ujar Tama dengan polosnya tanpa rasa malu, Toto dan Bian menyetujui ucapan Tama.
“Isun, Can ….” Toto mengacungkan telunjuk kanan menunjuk dirinya sendiri sambil mengusap-usap perutnya.
Terpaksa menggiring mereka menuju meja makan. Entah ada makanan apa di sana, yang penting mereka keluar dari kamar gue. Uma muncul dari dapur membawa satu piring besar mie goreng.
“Ayo makan, pada laper kan belum sarapan?”
“Uma tau aja, jeh,” oceh Toto, langsung duduk manis di kursi meja makan diikuti Bian dan Tama.
“Hmm… bagian mangan semangat semua!”
Entah datang dari mana tiba-tiba Ceceu sudah bergabung dengan kami semua. Ia sibuk menyiduk mie goreng lalu memberikannya pada Bian. Bikin keributan lokal di meja makan.
“Wuiihh, Bian enak bener, Co!”