Animo Ican (arti cinta)

R Hani Nur'aeni
Chapter #32

BELAJAR MENJADI LELAKI DEWASA

 Tidak ada yang sempurna dalam hidup ini, tapi ada satu yang bisa membuat hidup kita terasa sempurna, yaitu cinta. Melewati usia 17 tahun, semakin hari semakin bertambah usia, seorang laki-laki akan bermetamorfosis menjadi lelaki dewasa. Mengepakkan sayapnya, bersiap terbang menjelajahi dunia. 

Sebagai seorang laki-laki, gue telah mengalami metamorfosis itu. Ketika menerima KTP, ternyata itu satu tanda untuk mulai belajar menjadi lelaki dewasa. Menerima kenyataan hidup meski mengagetkan dan sempat membuat gue shok. Merasakan yang namanya jatuh cinta sekaligus merasakan sakit hati. Yah, begitulah kenyataan hidup. 

Suka tidak suka harus diterima dan dijalani karena pembelajaran ini yang membuat gue menjadi lelaki dewasa, berusaha menjadi manusia yang lebih baik setiap harinya. Seperti doa uma dan baba, menginginkan gue menjadi lelaki yang bertanggung jawab pada diri sendiri, orang tua, dan agama.

Proses pembelajaran yang sampai sekarang masih belum berakhir, mengubah hidup gue menjadi lelaki dewasa yang siap untuk memiliki Animo – keinginan. Seperti kata baba, “Kalau punya keinginan harus mau berjuang, menempuh segala resiko untuk mendapatkannya.” 

Kini gue paham dengan perkataannya, perjuangan uma dan baba menempuh segala resiko pahit agar gue lahir sama dengan bayi lainnya. Meski awalnya kehadiran gue karena suatu kesalahan, bukan berarti gue tidak berhak mendapatkan kehidupan yang baik dan kebahagiaan. Cinta, cinta yang menyempurnakan segala kekurangan dan ketidak sempurnaan dalam hidup. 

~~~  

 

Sebelumnya, jangankan mengobrol, bertemu dengan lelaki ini pun gue menolaknya. Namun seiring perjalanan waktu dan bertambahnya kedewasaan dalam diri, sekarang gue sudah terbiasa berhadap-hadapan dengannya. 

Ia lelaki seumuran baba; memakai kemeja hijau muda tangan pendek, celana chino warna khaki, sneakers putih. Rambutnya klimis, kumis tipis rapi. Dari tubuhnya menyebar aroma rempah kayu mengisyaratkan kemaskulinnya, penampilannya sangat berkelas dan kekinian. 

“Maaf papa datang telat, kamu udah pesan makan?” 

Menggeleng pelan, menyodorkan daftar menu saat ia sudah duduk dengan nyaman. “Sengaja tunggu papa datang. Kakang baru pesen minum aja.” 

Bola mata mengikuti gerak tubuhnya. Lelaki ini bernama Arman, ia adalah ayah biologis gue.

“Adik-adikmu kirim salam, kata mereka kenapa Kakang nggak mau ikut berlibur dengan mereka. Mama juga titip ini buat kamu,” ucapnya, lalu menyodorkan papper bag besar warna emas.

Tersenyum menerima hadiah itu. Kembali menatapnya, “Tolong bilang makasih ke mama. Apa ini, pa?”

“Telpon mamalah, bilang makasih sendiri,” sarannya, kemudian ia melambaikan tangan memanggil pelayan. “Buka aja, papa juga nggak tahu mama kasih apa.”

Merogoh tangan ke dalam papper bag itu, di dalamnya ada baju koko putih bersih dengan list hitam berpadu coklat di kerah dan lengan bajunya. Mengangkat kedua alis, memandang papa Arman meminta penjelasannya.

Ia tersenyum melihat kebingungan gue, “Kemarin, mama ajak adik-adikmu ke mal. Rupanya mau beli baju koko. Pantas ia titip pesan, nih.” 

Papa Arman menunjukan kiriman pesan di ponselnya.

Mama: semoga baju itu sering dipakai sholat, terus Kakang selalu ingat untuk mendoakan kita.

Lihat selengkapnya