Entah kenapa, semuanya terasa berjalan terlalu mulus sejak kedatangan Dara di Desa Lereng.
Sore itu, misalnya.
Waktu Dara baru saja meletakkan koper di lantai kontrakan, Bu Siti dan anaknya sudah berdiri di ambang pintu, membawakan singkong rebus yang masih hangat, dibungkus daun pisang.
Katanya, sebagai tanda selamat datang.
Dara tersenyum, mengangguk, mengucapkan terima kasih—seperti yang sudah seharusnya.
Tapi, saat pintu ditutup, ia berdiri lama menatap bungkusan itu, bertanya-tanya kenapa dadanya justru terasa sesak.
Tidak ada yang salah, pikirnya, tapi dadanya bersikeras berkata sebaliknya.
Dan malam ini, di warung, Bu Tini kembali melakukannya. Tanpa diminta. Tanpa dihitung. Sebungkus kue diselipkan ke dalam kantong plastik tepat saat Dara hendak membayar.
“Sudah,” kata Bu Tini ringan.
Tangan Dara menggantung di udara, lalu uang itu ia masukkan lagi ke dompet.
“Neng,” kata Bu Tini saat Dara melangkah pergi.
“Iya, Bu?” jawab Dara setelah berbalik badan.
“Hati-hati,” kata wanita paruh baya itu sambil tersenyum.
Kata-kata itu membuat Dara teringat rumor yang ia dengar sepintas beberapa hari lalu.
Ia sempat membuka mulut—namun kemudian memilih untuk tidak menanyakannya lebih jauh. “Iya, Bu. Terima kasih.”
***
Dara pulang melewati jalan utama, lalu berhenti di mulut jalan setapak.
Lorong itu gelap dan sempit—cukup untuk satu orang lewat.
Ia melirik ke arah jalan utama yang lebih terang, lebih ramai—tapi lebih jauh.
Dara menggeser plastik belanjaan di tangannya, lalu masuk ke jalan setapak.
Di kiri-kanan, kebun singkong dan pepohonan tumbuh rapat, menyisakan lorong gelap yang memanjang ke depan—diterangi cahaya rembulan.
Dara melangkah masuk lebih dalam.
Cahaya rumah warga muncul lalu menghilang di sela pepohonan. Jangkrik berbunyi tanpa irama, daun-daun bergesek pelan di atas kepala Dara.
Kakinya tetap melangkah, satu demi satu, tanpa irama.