Animus

Komandala Putra
Chapter #2

Keluarga Harmonis

Beberapa bulan sebelum melangkahkan kakinya di jalan setapak itu, Dara berdiri anggun di atas panggung. Lampu sorot mengarah tepat ke wajahnya, membuat ruangan di luar lingkar cahaya itu mengabur.

Dara berkedip beberapa kali, menyesuaikan napasnya—bukan karena gugup, melainkan karena cahaya itu terasa terlalu dekat.

Dari sana, ia melihat barisan kepala, deretan bahu, wajah-wajah yang saling berhimpitan.

Kursi-kursi terisi penuh. Beberapa orang berdiri di belakang, bersandar di dinding agar tetap bisa menghadiri acara peluncuran novel terbarunya itu.

Dara merasakan pendingin ruangan menyentuh kulitnya dari arah atas, dingin dan stabil, kontras dengan hangat yang naik dari kerumunan.

Ia menangkap suara kain bergesek ketika orang-orang bergerak, batuk kecil yang ditahan, bisik-bisik yang terlalu dekat untuk benar-benar terpisah.

Di barisan depan, beberapa pembaca mengangkat ponsel. Kilatan kamera muncul dan menghilang.

Di sudut ruangan, tumpukan bukunya disusun tinggi, sampul-sampulnya memantulkan cahaya, menegaskan bahwa ini bukan sekadar acara—tapi perayaan.

Di sebelah Dara, suaminya berdiri tegak, bahunya dekat dengan tubuh Dara. Anwar.

Ia mengenakan kemeja putih dengan lengan digulung sampai siku. Tangan kanannya melingkar di pinggang Dara.

Saat Anwar mencium pipi Dara, tepuk tangan penonton memenuhi udara.

Lalu, Anwar merangkulnya lebih erat. Kepalanya sedikit berpaling—menghadap sisi kanan panggung.

Dara mengikuti arah pandangannya.

Di sana, Siska berdiri. Ia mengenakan kaos putih dengan gambar sampul buku Dara. Rambutnya diikat rapi, ponsel di tangan, wajahnya ceria.

Saat mata mereka bertemu, Siska tersenyum kecil, lalu mengangguk.

Dara membalas anggukan itu—dan tidak membiarkan pikirannya melayang lebih jauh. Karena tidak adil rasanya mencurigai orang yang sudah ia tarik masuk ke hidupnya sendiri.

Lagipula, Siska baginya bukan sekadar asisten—sudah seperti adik kandungnya sendiri.

***

Usai sambutan dan foto singkat di panggung, panitia mengarahkan Dara ke meja panjang di sisi kanan ruangan. Di sana, tumpukan bukunya sudah menunggu, tersusun rapi.

Seorang wanita muda maju lebih dulu, menyerahkan buku dengan kedua tangan. Sampulnya masih mengilap, belum terlipat.

Dara menerima buku itu, membuka halaman pertama, lalu menuliskan namanya dengan pena hitam yang sudah disediakan panitia. Gerakannya rapi, terlatih.

“Terima kasih sudah datang,” katanya sambil menggeser buku kembali.

“Mbak Dara serasi sekali sama suaminya,” kata wanita itu.

Dara mengangguk, menjaga senyum tetap di tempatnya—seolah senyum itu bagian dari seragam yang tidak boleh dilepas. “Iya, Mbak. Alhamdulillah.”

Penggemar berikutnya, seorang ibu-ibu, membawa dua buku sekaligus. “Semoga langgeng terus ya, Mbak, rumah tangganya,” kata si ibu sambil melirik Anwar yang berdiri di tak jauh dari Dara.

Dara tersenyum. “Iya, Bu. Aamiin.”

Lihat selengkapnya