Animus

Komandala Putra
Chapter #3

Meet and Greet

Dara duduk di kursi di atas panggung—tanpa lampu sorot.

Panggung itu terasa seperti versi kecil dari panggung sebelumnya—bukan hanya ukurannya, tapi juga harapannya. Bahkan tulisan “Meet and Greet” di backdrop terlihat sederhana—nyaris seadanya.

Di depannya, kursi-kursi masih kosong—padahal acara seharusnya sudah dimulai.

Pintu terbuka. Dara refleks mengangkat wajah—gerakan yang bahkan tidak sempat ia pikirkan.

Seorang wanita paruh baya masuk, melirik ke arah panggung sekilas, lalu berbelok ke arah lain. Seolah keputusan itu sudah diambil sebelum kakinya melangkah masuk.

Di kursi sebelahnya, Pak Edi, sang editor, duduk sambil menautkan jemari. Pandangannya sesekali menyapu ruangan, lalu kembali menatap lurus.

Pintu terbuka lagi. Dara melihat sepasang remaja menoleh ke arah panggung, lalu berjalan ke arah rak buku di sebelah sana.

Dara menunduk. Pulpen hitam terletak di atas meja, sejajar dengan tumpukan buku yang belum tersentuh.

Pintu terbuka lagi dan Dara mulai menyadari pola: pintu berbunyi, harapan naik, lalu jatuh lagi—tanpa suara.

Dara menebar pandangan ke sekitar.

Ia melihat seorang wanita muda menoleh ke arah panggung sebentar, lalu berbisik-bisik dengan temannya.

Pak Edi melirik Dara, alisnya terangkat sedikit—bukan bertanya, lebih seperti menunggu keputusan.

Dara menoleh, memaksakan senyum kecil yang terasa kering. “Sebentar lagi,” katanya pelan. Kalimat itu terdengar seperti permintaan, bukan pernyataan.

Pak Edi mengangguk tipis.

Waktu terus berjalan. Para pengunjung keluar-masuk toko—tak ada satu pun yang mendekat.

Saat Pak Edi bangkit, setengah berdiri, seorang pria masuk.

Pria itu menoleh ke arah panggung, matanya bertemu dengan Dara. Ia tersenyum—lebar, canggung—lalu mengangkat tangan, melambai kecil.

Dara membalas lambaian itu. “Mas Lukman,” gumam Dara, hampir tak terdengar.

Lukman melewati kursi-kursi itu, lalu duduk di barisan depan. Dari caranya duduk—sedikit condong ke depan, tangan di lutut—Dara sadar: ia benar-benar datang untuk acara itu.

Di antara kursi-kursi kosong, satu tubuh akhirnya mengisi ruang—justru karena itulah kekosongan di sekitarnya terasa jauh lebih pekat.

Pak Edi duduk lagi, tersenyum ke arah Lukman.

Lihat selengkapnya