Annerta : Part of Aquira

Ann Aizawa
Chapter #1

Annerta

Lima Belas Tahun Lalu

Di sebuah rumah kecil yang berdiri sunyi di tepi danau, dengan malam yang berjalan pelan. Cahaya bulan terpantul di danau yang nyaris tak bergerak, seolah ikut menahan napas.

Di dalam rumah itu, seorang bayi berusia empat belas hari menangis lirih dalam dekapan ibunya. Tangisnya lemah, nyaris tenggelam oleh keheningan malam. Bayi yang merupakan anak dari dua kaum yang menurut legenda tidak seharusnya ada, darah Lamdara dan Aquira, api dan air yang oleh hukum alam tidak untuk ditakdirkan. Namun kini, dua kekuatan itu berdiam dalam satu tubuh kecil milik seorang anak perempuan bernama Annerta Syafa.

Perempuan yang menggendong Annerta memeluknya lebih erat, seolah ingin menjauhkan putrinya dari seseorang yang akan merebut kehidupan hari kelima belas dan seterusnya yang seharusnya dimiliki Annerta. Wanita itu bernama Monisya,dari kaum Aquira (air) yang telah mengkhianati kaumnya dan keluarganya demi memilih mencintai seorang pangeran dari kaum Lamdara (api). Kenyataan pahit itu baru ia sadari kini, bahwa pria yang ia cintai dengan tulus telah menikahinya hanya demi kekuasaan semata. Hancur perasaan Monisya saat mendengar pengakuan pahit dari Harno, suaminya sendiri.

"Dinda, semua ini hanyalah rencana awal ayahku. Tapi setelah menjalani semua ini, aku benar-benar mencintaimu. Aku menyayangimu dan putri kita." ujar Harno dengan wajah penuh penyesalan.

Harno mulai berjalan pelan ke arah Monisya. Namun Monisya mengeluarkan kemampuannya, menyemburkan air yang telah membeku menjadi es dari tangannya dan mengarahkannya ke arah Harno, menolak pria itu untuk mendekat.

"Tetap di tempatmu, wahai Lamdara. Jangan langkahkan kaki kotormu itu ke hadapanku." ujar Monisya dengan nada bergetar dan mata biru yang berapi-api.

"Dinda, mari bicarakan ini dengan kepala dingin" balas Harno.

"Menyingkir!" ujar Monisya.

Namun Harno tidak menghiraukan peringatan itu. Ia justru tetap melanjutkan langkahnya, hingga membuat jiwa bertahan Monisya muncul. Ia mengeluarkan pedang yang menjadi senjata paling mematikan milik kaum Aquira, senjata satu-satunya yang mampu melumpuhkan kaum Lamdara. Pedang itu seketika tertancap, menembus punggung Harno. Darah pun keluar dari mulutnya.

Sekejap kemudian, langit seakan menunjukkan dukanya kepada pangeran Lamdara. Membentuk kumpulan awan hitam disertai petir yang datang secara tiba-tiba.

Mata Monisya yang sebelumnya berapi-api langsung meredup. Apa yang baru saja ia lakukan adalah hal paling berbahaya yang pernah terjadi. Tak butuh waktu lama, kabar dari langit itu sampai ke Kerajaan Lamdara. Aryo, sang ajudan pribadi Harno, segera merasakan hal buruk terjadi dan bergerak menuju tempat Harno dan istrinya berada.

Saat tiba di sana, Aryo terkejut bukan main. Pintu rumah itu terbuka lebar, memperlihatkan pemandangan yang membuat dadanya serasa diremas. Calon penerus Lamdara itu terluka parah, berlutut lemah dengan punggung menghadap pintu. Ujung bilah pedang berwarna biru masih menancap di tubuh Harno, sementara darah menetes perlahan ke lantai.

"Paduka Putri, apakah engkau telah hilang akal?" seru Aryo dengan suara bergetar oleh amarah dan keterkejutan.

"Apa yang kau lakukan kepada pangeran?!"

Monisya menoleh. Wajahnya pucat, matanya masih terpaku pada tubuh Harno yang nyaris tak berdaya.

"Aryo... aku... hanya..." ucapnya terbata-bata, suaranya nyaris tak terdengar.

Melihat kondisi Harno, naluri pelindung Aryo muncul seketika. Tanpa berpikir panjang, ia melangkah maju dan mengangkat tangannya. Api mulai berkumpul di telapak tangannya, berputar dan memanas, siap dilontarkan ke arah Monisya.

Namun pada saat itulah. Dalam satu kedipan mata, Harno menghilang dari tempatnya berlutut. Udara berdesir tajam.

Sesaat kemudian, tubuh Harno telah berada tepat di hadapan Aryo. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Harno menangkap pergelangan tangan Aryo, menghentikan api itu sebelum sempat dilepaskan. Ledakan panas teralihkan ke atas, menghantam atap rumah dan membuatnya bolong, serpihan kayu jatuh berhamburan.

Belum sempat Aryo bereaksi, Harno langsung mencengkeram lehernya, menekan tubuh sang ajudan ke dinding.

"Sekali lagi kau tampakkan api kotormu itu pada istri dan anakku," ucap Harno dengan suara rendah namun penuh ancaman.

"Kupastikan hari itu namamu tak akan terdengar lagi di penjuru bumi ini." Sambungnya.

Lihat selengkapnya