Annerta : Part of Aquira

Ann Aizawa
Chapter #2

Jalan Kecil

Monisya melangkah masuk ke ruang guru dengan sikap tenang, meski dadanya terasa sedikit sesak. Bu Tuti, wali kelas Annerta, bangkit dari kursinya begitu melihatnya.

"Silakan duduk, Bu Monisya" ucap Bu Tuti sambil tersenyum sopan.

Monisya duduk di kursi depan meja guru itu. Tangannya saling menggenggam di pangkuan, mencoba terlihat biasa saja. Mereka mulai berbincang tentang Annerta. Tentang sikapnya di kelas yang pendiam. Tentang caranya memperhatikan pelajaran dengan serius. Tentang nilai-nilainya yang selalu berada di peringkat atas.

"Annerta anak yang sangat pintar, Bu" kata Bu Tuti sambil membuka sebuah map rapor di atas meja.

"Nilainya konsisten bagus sejak awal semester. Tidak pernah terlambat mengumpulkan tugas, dan jarang absen. Namun terlalu tertutup."

Monisya tersenyum kecil.

"Dia memang tidak banyak bicara," jawab Monisya singkat.

Bu Tuti mengangguk sambil mengambil selembar kertas dari dalam map rapor.

"Ini rapor semester pertamanya."

Monisya mengulurkan tangan. Jari-jarinya hampir menyentuh map itu, ketika tiba-tiba Bu Tuti menghentikan gerakannya sendiri. Tatapan Bu Tuti turun perlahan, tidak lagi ke wajah Monisya, melainkan ke lengannya. Ke pergelangan tangan kanan Monisya.

Di dekat nadinya, samar terlihat sebuah tanda berbentuk simbol air. Polanya tipis, seperti tato lama yang nyaris menyatu dengan kulit. Bu Tuti menyipitkan mata sejenak, seolah memastikan apa yang dilihatnya. Map itu belum diserahkan.

"Bu Monisya..." ucapnya pelan.

"Ibu Parinasta, ya?"

Senyum Monisya seketika menghilang. Wajahnya berubah tegang. Ia langsung menarik tangannya dan meraih map itu dengan cepat.

"Saya permisi dulu, sudah selesai kan Bu?" katanya singkat, tanpa menatap wajah Bu Tuti.

Ia berdiri dari kursi dan berjalan menuju pintu.

"Bu Monisya, sebentar." panggil Bu Tuti lagi.

Namun Monisya sudah membuka pintu. Saat hendak melangkah keluar, Bu Tuti bergerak cepat dan berdiri di depan pintu, menahannya.

"Maaf, Bu," ucap Bu Tuti dengan suara lebih rendah namun jelas.

"Tapi saya sarankan Annerta sebaiknya dipindahkan ke sekolah khusus Parinasta."

Monisya mengerutkan kening.

"Maaf, Bu. Saya tidak mengerti maksud Ibu," jawab Monisya cepat. Tangannya masih menggenggam map rapor erat.

Bu Tuti menghela napas pelan.

"Ayah saya Vaya, Bu," katanya.

"Ibu tidak perlu berbohong."

"Saya tahu sedikit tentang Parinasta," lanjut Bu Tuti.

"Usia lima belas sampai tujuh belas tahun adalah masa anak-anak menemukan jati diri dan kemampuan mereka. Saya takut jika terlambat Annerta akan kehilangan kendali terhadap kemampuan Parinastanya."

Ia menatap Monisya dengan serius.

"Saya hanya ingin Annerta belajar di tempat yang tepat. Tempat yang bisa melindunginya serta bisa memberikan arahan yang sesuai dengan kemampuannya. Sekolah formal seperti ini, bukan tempat yang aman untuk anak Parinasta."

Monisya menunduk sesaat. Wajahnya terlihat pucat. Namun ia tidak menjawab. Tangannya mendorong pintu lebih kuat.

"Permisi, " ucapnya singkat.

Lihat selengkapnya