Annerta : Part of Aquira

Ann Aizawa
Chapter #3

Vidyalaya Santara

Mobil melambat di depan sebuah gerbang besar bertuliskan VIDYALAYA SANTARA. Huruf-huruf besinya tampak tua, sebagian terkelupas catnya. Dinding tinggi mengurung area di baliknya, tertutup bayangan pohon pinus yang menjulang rapat. Jalan masuk ke dalam tampak panjang, sunyi, seolah tidak pernah dilewati kendaraan biasa.

Monisya menghentikan mobil tepat di depan gerbang.

"Kamu akan sekolah di sini sekarang" ucapnya singkat.

Annerta menoleh perlahan. Tatapannya datar, namun matanya menyipit tipis.

"Kita salah jalan," katanya. 

"Ini bukan SMA 1 Kota."

Monisya tidak segera menjawab. Ia menatap gerbang itu lama, seperti sedang menimbang sesuatu di dalam pikirannya.

"Tidak salah" ujarnya akhirnya.

"Memang ke sini."

Keheningan menggantung di dalam mobil. Annerta memandangi wajah wanita di sampingnya. Wajah itu sama. Suaranya juga sama. Namun sejak mereka melewati jalan hutan tadi, ada sesuatu yang terasa berbeda, gerak-geriknya terlalu kaku, napasnya terlalu berat.

"Kau bukan ibu saya" ucap Annerta dingin.

Monisya menoleh cepat.

"Apa maksudmu?"

"Hutan tadi," lanjut Annerta. 

"Tempat itu dikenal angker. Orang-orang bilang, siapa pun yang lewat terlalu lama bisa... dirasuki."

Ia berhenti sejenak, lalu menatap lurus ke depan.

"Dan sekarang kau membawa saya ke sekolah aneh di tengah hutan. Itu terlalu kebetulan."

Monisya terdiam. Lalu ia mengangkat lengannya perlahan. Di dekat pergelangan tangan, tanda Aquira tampak samar di balik lapisan make-up yang mulai pudar.

"Aku ibumu" katanya pelan. 

"Dan ada hal tentang kita yang harus kamu tahu."

"Ibu... Parinasta."

Annerta mengerutkan dahi.

"Parinasta ?" katanya datar.

"Saya pernah membaca bukunya. Urban legend tentang manusia dengan darah unsur."

"Itu bukan sekedar urban legend, Annerta" balas Monisya.

Ia menjelaskan singkat tentang Aquira, tentang darah air yang mengalir dalam dirinya, tentang Annerta yang mewarisinya. Tanpa menyebutkan Lamdara. Annerta mendengarkan tanpa memotong. Namun tatapannya justru semakin dingin.

"Jadi sekarang kau ingin saya percaya, bahwa ibu saya adalah makhluk setengah legenda" katanya.

"Dan sekolah ini adalah tempat mereka berkumpul?"

"Ini bukan soal percaya atau tidak" ujar Monisya.

 "Ini soal keselamatanmu".

Annerta tidak langsung menjawab. Ia menatap Monisya beberapa detik.

"Kalau kau benar ibu saya" katanya datar

"buktikan dulu."

Monisya mengerutkan kening.

Lihat selengkapnya