Annerta : Part of Aquira

Ann Aizawa
Chapter #4

Hari Pertama

Di lorong Santara yang sunyi, Tara berjalan di samping Annerta, berbicara seolah mereka sudah lama saling mengenal.

"Kamu termasuk yang mana?" tanya Tara tiba-tiba.

"Maksudmu?" jawab Annerta dingin.

"Kaummu. Aquira, Kaka, Vaya, Vras, Bumi atau Rupantara?"

"Aquira" jawab Annerta cepat.

"Oh, syukurlah," ucap Tara lega.

"Tapi kok kamu nggak kelihatan seperti Aquira, ya? Biasanya mereka lembut dan kalem. Kamu malah kayak...hmm. Sini deh, boleh lihat?"

Tanpa menunggu izin, Tara menggenggam tangan Annerta dan menatap pergelangan tangannya.

"Kamu bohong, ya? Nggak ada tatonya."

Annerta langsung menarik tangannya.

"Saya hidup lima belas tahun di antara manusia. Kata Ibu, itu yang bikin tato saya terlambat muncul."

"Yah... berarti aku bakal bikin kamu makin lama munculnya dong," kata Tara sambil tertawa ringan.

"Kalo aku sih kaum spesial"

"Spesial apa?" tanya Annerta dengan datar.

"Spesialis kekayaan, hahaha" jawab Tara sambil terkekeh.

"Kenapa manusia biasa bisa sekolah disini juga?, bukannya ini sekolah khusus Parinasta?" tanya Annerta

"Hmm... Papa aku cukup jadi donatur tujuh puluh persen di Santara dan aku diterima. Itu aja syaratnya"

Annerta hanya mengangguk dan tidak menanggapi lagi. Ia hanya berjalan di samping Tara menyusuri koridor panjang. Tara berjalan lebih dulu di depan, sesekali menoleh memastikan Annerta masih mengikutinya.

"Ini deretan ruang kelas" katanya sambil menunjuk barisan pintu yang berjajar rapi di sepanjang lorong.

"Belajarnya sama kayak sekolah biasa. Matematika, bahasa, sejarah, olahraga dan ada juga Spriritual."

Mereka berbelok ke koridor lain.

"Nah... yang itu kelas Spiritual satu sampai tiga, katanya sih ada sampai tujuh" lanjut Tara singkat.

"Cocok buat kamu, soalnya kelas itu buat kaum ngasah kemampuan kaum parinasta. Tapi aku ikut aja karena seru."

Annerta hanya mengangguk. Tara kembali melangkah.

"Perpustakaan ada disana, ditengah" katanya sambil menunjuk bangunan dengan jendela tinggi.

"Kalau ruangan musik ada disana, tapi belum ada gurunya. Guru yang lama resign"

Mereka keluar ke area terbuka.

"Ini lapangan utama," ujar Tara.

"Yang di belakang sana lapangan panah."

Annerta memperhatikan sekelilingnya. Bangunan-bangunan itu tampak rapi dan modern, tidak jauh berbeda dari sekolah biasa, hanya suasananya yang terasa lebih sunyi dan tertutup.

"Sudah?" tanya Annerta.

"Iya, hafal kan?" jawab Tara ringan.

Annerta tidak menjawab. Pandangannya menyapu dinding-dinding sekolah yang tinggi dan tertutup, seperti tidak memberi jalan keluar selain terus masuk lebih dalam. 

***

Waktu berlalu beberapa jam. Kini ia sudah mengenakan seragam Santara dengan logo Santara terpasang di dada kirinya. Rambutnya tetap dikuncir rapi, poninya jatuh lurus menutupi sebagian dahi.

Di dekat air mancur, Monisya berdiri menunggunya. Annerta melangkah mendekat. Monisya menoleh. Matanya langsung tertuju pada seragam Annerta. Ada senyum tipis yang muncul, bercampur dengan sesuatu yang lebih berat di wajahnya.

"Kamu cocok pakai seragam itu" kata Monisya pelan.

Annerta tidak langsung menjawab. Ia berdiri di depan ibunya.

"Ibu harap... kamu bisa menemukan dirimu di sini."

Annerta menatap air mancur di tengah lapangan.

Lihat selengkapnya