Annerta : Part of Aquira

Ann Aizawa
Chapter #5

Parinasta

Bel pertama berbunyi menandakan pelajaran selesai. Kursi-kursi mulai bergeser, suara langkah kaki memenuhi lorong. Annerta mengangkat tasnya dari sisi bangku dan berdiri tanpa menoleh ke siapa pun. 

"Sejarah habis ini. Ke perpustakaan sekarang" kata Tara sambil merapikan dasinya.

Annerta tidak menjawab, hanya berjalan di sampingnya menyusuri lorong Santara yang panjang. Mereka melewati beberapa koridor hingga tiba di sebuah bangunan dengan pintu tinggi dan jendela besar. Di atasnya terpasang tulisan Perpustakaan Vidyalaya Santara.

Bagian dalamnya tampak megah. Rak-rak buku menjulang rapi, tersusun membentuk lorong-lorong kecil. Di sisi lain, terlihat beberapa bilik tertutup berisi komputer. Namun kelas mereka diarahkan ke area tengah, tempat meja panjang dan deretan buku sejarah tersusun.

Annerta meletakkan tasnya di kursi, lalu duduk di samping Tara. Ia sempat menoleh sekilas ke arah belakang. Siswi yang sejak pagi menatapnya kembali terlihat. Tatapannya masih sama, dingin dan tajam, seolah Annerta adalah sesuatu yang mengganggu pemandangannya.

Annerta cepat memalingkan wajah. Ada keinginan untuk bertanya pada Tara tentang gadis itu, tapi ia mengurungkannya. Ia tidak ingin mendengar penjelasan panjang yang penuh gosip dan cerita berlebihan.

Tak lama kemudian, suasana mulai tenang ketika semua siswa telah duduk. Langkah kaki terdengar dari arah pintu. Pak Lium masuk ke dalam perpustakaan. Seragamnya berbeda dari sebelumnya, lebih santai, tanpa jas resmi.

Annerta mengerutkan dahi dan melirik ke arah Tara.

"Hahaha, kaget ya? Aku juga awalnya gitu" bisik Tara.

"Apakah sekolah ini tidak mampu membayar guru?" tanya Annerta datar.

Tara menahan tawa.

"Bukan gitu. Pak Lium itu kaum Rupantara. Dia bisa ngajar apa saja. Dia pegang lima pelajaran di sini. Kamu bakal sering banget ketemu dia."

"Pelajaran apa saja?" tanya Annerta singkat.

"Spiritual, sejarah, matematika, bahasa Inggris dan biologi."

Annerta menatap ke depan lagi.

"Berarti gaji beliau paling besar."

Tara hanya terkekeh pelan.

Pak Lium berdiri di depan kelas dengan kedua tangan bertumpu di meja. Pandangannya menyapu seluruh murid.

"Baik," katanya tenang.

"Hari ini kita mulai dari dasar dulu. Tentang Parinasta dan kaum-kaum yang ada di dalamnya. Walaupun bapak rasa kalian sudah tahu soal ini, apa salahnya kita mengulang kembali yakan?"

Beberapa murid mulai menyiapkan catatan. Annerta ikut membuka bukunya.

"Parinasta adalah dunia asal kita. Dunia tempat kaum-kaum hidup sebelum bercampur dengan manusia" lanjut Pak Lium.

"Dan setiap kaum memiliki peran serta kemampuan masing-masing."

Ia berbalik ke papan tulis.

"Yang pertama, kaum Vaya."

"Vaya memiliki elemen angin," katanya.

"Mereka dikenal sebagai kaum paling cerdas dalam hal pengetahuan. Bisa dibilang, mereka adalah google, kalau kata orang sekarang."

Beberapa murid tertawa kecil.

"Di Parinasta dulu, kaum Vaya adalah pakar sejarah. Mereka tidak berdusta tentang masa lalu. Apa yang mereka ingat adalah yang benar-benar terjadi."

"Secara fisik, mereka mampu mengendalikan angin. Dari hembusan kecil sampai dorongan besar untuk bertarung atau bergerak cepat."

Pak Lium lalu menggeser spidolnya.

"Kedua, kaum Kaka, kaum gagak."

Nada suaranya sedikit lebih serius.

"Mereka adalah para peramal. Setiap ramalan membutuhkan pengorbanan."

"Pengorbanannya adalah darah mereka sendiri. Jadi, cara kereja mereka menusukkan jarum kecil pada bagaian tubuh manapun hingga berdarah, lalu memegang orang juga berdarah. Jadi semua berkaitan soal darah"

"Selain itu, kaum Kaka juga memiliki kemampuan bertarung. Lima bilah bulu tajam akan muncul dan berputar di sekitar pergelangan tangan mereka. Seperti pisau yang melingkar. Keren ya?"

Annerta terdiam, mendengarkan.

"Ketiga, kaum Vras. Kaum serigala."

"Mereka adalah barisan terdepan dalam peperangan. Benteng pertahanan hidup."

"Cakar mereka mampu menembus baja dan baju besi."

"Mereka dapat berubah saat bulan purnama."

Pak Lium berhenti sebentar, lalu melanjutkan.

"Keempat, kaum Bumi."

"Mereka mengendalikan tumbuhan dan tanah."

"Ranting, akar dan tanaman di sekitar mereka bisa digerakkan sebagai senjata atau alat pertahanan."

"Mereka juga bisa membentuk dinding tanah sebagai penahan serangan."

Beberapa murid mengangguk-angguk.

"Kelima, kaum Aquira."

Annerta menegakkan sedikit punggungnya.

"Aquira adalah pengendali air. Mereka bisa menggerakkan air, membekukannya, bahkan mengubah bentuknya."

"Namun Aquira juga memiliki kemampuan spesial lainnya."

"Sebagian dari mereka dianggap sebagai dokter."

Pak Lium menatap kelas lebih dalam.

Lihat selengkapnya